BAB 1
PENDAHULUAN
A.
LATAR
BELAKANG
Psikologi
berasal dari bahasa Yunani “psyche” yang berarti jiwa dan “logos” yang berarti
ilmu. Jadi secara etimologis, psikologi berarti ilmu jiwa. Pada awalnya
psikologi digunakan oleh para filosof untuk memahami akal pikiran dan tingkah
laku makhluk hidup. Namun selanjutnya psikologi digunakan secara meluas untuk
mempelajari banyak bidang. Pada akhirnya psikologi banyak digunakan untuk
memahami tingkah laku manusia, melalui penyelidikan tentang mengapa, kapan dan
dengan cara bagaimana tingkah laku seseorang itu muncul.
Muhibbin
Syah menyimpulkan bahwa psikologi adalah ilmu pengetahuan yang menyelidiki dan
membahas tingkah laku terbuka dan tertutup pada manusia, baik selaku individu
maupun kelompok, dalam hubungannya dengan lingkungan.
Pendidikan berasal dari kata “didik”. Mendidik berarti memelihara dan
memberikan latihan, yang memerlukan adanya ajaran terutama mengenai akhlak dan
kecerdasan.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia pendidikan adalah proses pengubahan sikap dan
tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia
melalui upaya pengajaran dan pelatihan.
Psikologi
Pendidikan
Barlow
mendefinisikan psikologi pendidikan sebagai suatu pengetahuan berdasarkan riset
psikologis yang menyediakan serangkaian sumber-sumber untuk membantu
melaksanakan fungsi dalam proses belajar mengajar secara lebih efektif.
Sedangkan secara istilah psikologi pendidikan adalah psikologi yang khusus
menguraikan kegiatan-kegiatan atau aktivitas-aktivitas manusia dalam hubungannya
dengan situasi pendidikan, misalnya bagaimana cara menarik perhatian agar
pelajaran dapat dengan mudah diterima, bagaimana cara belajar dan sebagainya.
Maka
psikologi pendidikan adalah ilmu yang mempelajari tentang perilaku
manusia di dalam dunia pendidikan yang meliputi studi sistematis tentang
proses-proses dan faktor-faktor yang berhubungan dengan pendidikan manusia yang
tujuannya untuk mengembangkan dan meningkatkan koefisien di dalam pendidikan.
Psikologi pendidikan pada dasarnya berorientasi pada proses kegiatan
orang-orang yang belajar dan mengajar termasuk pendekatan, strategi, hasil,
metode belajar mengajar yang digunakan baik pembelajar maupun pengajar. Pada
akhirnya psikologi pendidikan dapat digunakan sebagai pedoman praktis disamping
sebagai kajian teoritis karena psikologi pendidikan pada dasarnya merupakan
salah satu disiplin psikologi yang meyelidiki masalah-masalah psikologi yang
terjadi dalam dunia pendidikan.
Oleh
karena itu objek kajian psikologi pendidikan, selain teori-teori psikologi
pendidikan sebagai ilmu, tetapi lebih condong pada aspek psikologis peserta
didik, khususnya ketika mereka terlibat dalam proses pembelajaran.
Menurut Glover dan Ronning objek kajian psikologi pendidikan mencakup
topik-topik tentang pertumbuhan dan perkembangan peserta didik, hereditas dan
lingkungan, perbedaan individual peserta didik, potensi dan karakteristik
tingkah laku peserta didik, pengukuran proses dan hasil pendidikan dan
pembelajaran, kesehatan mental, motivasi dan minat, serta disiplin lain yang
relevan.
Psikologi
pendidikan adalah studi yang sistematis terhadap proses dan faktor-faktor yang
berhubungan dengan pendidikan. Sedangkan pendidikan adalah proses pertumbuhan
yang berlangsung melalui tindakan-tindakan belajar. Adanya kaitan yang sangat
kuat antara psikologi pendidikan dengan tindakan belajar. Karena itu, tidak
mengherankan apabila beberapa ahli psikologi pendidikan menyebutkan bahwa
lapangan utama studi psikologi pendidikan adalah soal belajar. Dengan kata
lain, psikologi pendidikan memusatkan perhatian pada persoalan-persoalan yang
berkenaan dengan proses dan faktor-faktor yang berhubungan dengan tindakan
belajar.
Untuk
memperjelas pertimbangan-pertimbangan psikologi pendidikan yang
melibatkan peserta didik ,berikut ini diketengahkan uraian tentang pengertian
epsikologi pendidikan dan ruang lingkup pskikologi
pendidikan,perkembangan psikologi pendidikan,aliran-aliran psikologi
pendidikan,metode-metode psikologi pendidikan dan hubungan psikologi pendidikan
dengan bimbingan konseling.
BAB 2
RINGKASAN MATERI
ARTIKEL
1 (PENGERTIAN DAN OBJEK PSIKOLOGI PEMBELAJARAN )
Pengertian
dan Objek Psikologi Pembelajaran
Psikologi secara etimologi berasal dari dua suku kata yaitu psik (jiwa) dan
logos (ilmu). Atau psikologi disebut juga dengan ilmu jiwa. Sedangkan psikologi
secara terminologi adalah suatu ilmu yang menyelidiki serta mempelajari sikap,
tingkah laku atau aktivitas-aktivitas di mana sikap, tingkah laku, atau
aktivitas-aktivitas itu sebagai manifestasi hidup kejiwaan. Jadi, objek
psikologi adalah jiwa.
Sedangkan, psikologi pembelajaran secara etimologi berasal dari dua kata yaitu
psikologi dan pembelajaran. Pengertian psikologi telah dibahas sebelumnya, dan
pengertian pembelajaran adalah suatu proses yang dilakukan oleh individu untuk
memperoleh suatu perubahan perilaku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil
dari pengalaman individu itu sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya.
Beberapa
prinsip yang menjadi landasan pengertian tersebut ialah :
·
Pembelajaran
sebagai suatu usaha memperoleh perubahan perilaku. Prinsip ini bermakna bahwa
prosees pembelajaran itu ialah adanya perubahan perilaku dalam diri individu.
·
Hasil
pembelajarn ditandai dengan perubahan perilaku secara keseluruhan.
·
Pembelajaran
merupakan suatu proses. Prinsip ini mengandung makna bahwa pembelajaran
merupakan suatu aktifitas yang berkesinambungan.
·
Proses
pembelajaran terjadi karena adanya sesuatu yang mendorong dan ada suatu tujuan
yang ingin dicapai.
·
Pembelajaran
merupakan suatu pengalaman.
Jadi,
psikologi pembelajaran adalah cabang psikologi secara khusus mengkaji berbagai
perilaku individu dalam kaitannya dengan pendidikan, tujuannya untuk menemukan
fakta, generalisasi, dan teori psikologis yang berkaitan dengan pendidikan
untuk digunakan dalam upaya melaksanakan proses pendidikan yang
efektif. Dan objek psikologi pembelajaran adalah pendidik (guru) dan
peserta didik (murid).
·
Sejarah
Munculnya Psikologi Pembelajaran
Awal
mula munculnya psikologi pembelajaran berawal dari tokoh pertama, William James
(1842-1910) memberikan serangkaian kuliah bertajuk “Talks to Teachers”. Dalam
kuliah ini ia mendiskusikan aplikasi psikologi untuk mendidik anak. Ia
menegaskan pentingnya mempelajari proses belajar dan mengajar di kelas guna
meningkatkan mutu pendidikan. Salah satu rekomendasinya adalah mulai mengajar
pada titik yang sedikit lebih tinggi di atas tingkat pengetahuan dan pemahaman
anak dengan tujuan untuk memperluas cakrawala pemikiran anak.
Tokoh kedua,
John Dewey (1859-1952) merupakan motor penggerak pengaplikasian psikologi dalam
tingkat praktis, sehingga kemudian ia membangun laboratorium psikologi
pendidikan pertama di Universitas Columbia Amerika Serikat (1894).
Beberapa
kajian yang penting darinya adalah :
1.
Kita mendapatkan pandangan tentang anak sebagai pembelajar aktif (active
learning), dimana anak bukan pasif duduk diam menerima pelajaran tetapi juga
aktif agar proses belajar anak akan lebih baik.
2.
Pendidikan harus difokuskan pada anak secara keseluruhan dan kemampuan anak
untuk beradaptasi dengan lingkungannya. Dewey percaya bahwa anak-anak
seharusnya tidak mendapatkan pelajaran akademik saja, tetapi juga harus
mempelajari cara untuk berpikir dan beradaptasi dengan lingkungan luar sekolah,
seperti mampu untuk memecahkan masalah dengan baik.
3.
Dia juga berpendapat bahwa semua anak berhak mendapatkan pendidikan yang
selayaknya, mulai dari kaya dan miskin, laki-laki dan perempuan, semua golongan
etnis, sampai pada semua lapisan ekonomi-sosial.
Tokoh ketiga,
E.L Thorndike (1874-1949) berpendapat bahwa salah satu tugas pendidikan di
sekolah yang paling penting adalah menanamkan keahlian penalaran anak. Thorndike
sangat ahli dalam melakukan studi belajar dan mengajar secara ilmiah. Thorndike
mengajukan gagasan bahwa psikologi pendidikan harus punya basis ilmiah dan
harus berfokus pada pengukuran.
ARTIKEL 2 (PENTINGNYA
PSIKOLOGI PENDIDIKAN DALAM PROSES BELAJAR MENGAJAR )
Pentingnya
Psikologi Pendidikan
Secara
garis besar banyak ahli membatasi objek kajian psikologi pendidikan menjadi
tiga macam:
1. Mengenai “belajar”, yang meliputi teori-teori,
prinsip-prinsip, dan ciri-ciri khas perilaku belajar peserta didik, dan
sebagainya;
2. Mengenai “proses belajar”, yakni tahapan perbuatan dan
peristiwa yang terjadi dalam kegiatan belajar peserta didik;
3. Mengenai “situasi belajar”, yakni suasana dan keadaan
lingkungan, baik bersifat fisik maupun nonfisik yang berhubungan dengan
kegiatan belajar peserta didik.
Widyaiswara adalah PNS yang diangkat sebagai pejabat fungsional dengan tugas,
tanggung jawab, wewenang, dan hak untuk melakukan kegiatan dikjartih PNS,
evaluasi dan pengembangan diklat pada lembaga diklat pemerintah. Sebagai tenaga
dikjartih, dalam melakukan kegiatannya widyaiswara harus menyesuaikan proses
belajar mengajar dengan situasi dan kondisi peserta diklat. Hal ini bertujuan
agar pembelajaran dapat tercapai secara efektif.
Kelas
adalah sebuah lingkungan yang menjadi tempat interaksi antar peserta diklat,
antara peserta diklat dengan widyaiswara. Proses interaksi ini harus digunakan
sebagai dasar dalam mempertimbangkan perlakuan seperti apa yang akan diberikan
kepada peserta diklat. Perlakuan yang responsif ini diberikan agar secara
psikologis peserta diklat terus bergairah, antusias dan senang melakukan
kegiatan serta terlibat aktif dalam proses pembelajaran. Agar bisa mendapatkan
situasi yang “meriah” seperti diatas, widyaiswara harus memahami konsep
psikologi pendidikan agar dapat melaksanakan tugasnya secara profesional.
Manfaat yang dapat diperoleh pengajar yang memahami psikologi pendidikan antara
lain :
1. Pemahaman proses perkembangan peserta didik yang dapat
digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam pelaksanaan proses belajar mengajar.
Hal ini penting agar dapat dilakukan penyesuaian dengan tahap perkembangan
ranah cipta peserta diklat sehingga mereka lebih mudah mencerna dan memahami
materi yang disampaikan. Contoh nyata adalah ketika penulis berada di kelas
diklat PBJ. Pesera berasal dari latar belakang yang beragam. Pengalaman di
kantor selama melaksanakan pekerjaan sangat beragam. Di awal penulis melakukan
profiling peserta untuk mengetahui sejauh mana interaksi mereka dengan pekerjaan
yang berhubungan dengan teknis diklat. Biasanya kondisi peserta sangat beragam.
Ada yang sudah berpengalaman dan lama bekerja di bagian tersebut. Ada yang
sekedar mengetahui bahkan ada yang sama sekali tidak mengerti materi teknis
tersebut. Pengetahuan akan profil peserta ini memudahkan penulis ketika
mengajar yaitu dengan memahami perkembangan peserta diklat selama ini. Maka
penulis akan banyak menyampaikan konsep di awal materi untuk menyesuaikan
dengan kondisi peserta yang masih pemula. Atau disaat yang lain, penulis akan
banyak latihan dan sharing untuk peserta yang sudah berpengalaman dan mengikuti
diklat sebagai bentuk penyegaran kepada mereka.
2.
Pemahaman cara belajar peserta diklat
belajar
mengajar keberadaan widyaiswara sangat diperlukan untuk membantu peserta diklat
agar mau dan mampu belajar dengan sebaik-baiknya. Oleh karena itu, merupakan
hal yang esensial bagi widyaiswara untuk memahami cara dan tahapan belajar yang
terjadi pada peserta diklatnya. Pemahaman ini mencakup urgensi belajar, teori
belajar, hubungan belajar dengan memori dan pengetahuan serta fase yang dilalui
dalam peristiwa belajar. Selain juga pendekatan belajar, kesulitan belajar dan
cara mengatasinya.
3.
Pemahaman dalam proses belajar mengajar
Hal
yang perlu diperhatikan oleh widyaiswara dalam dikjartih adalah menyampaikan
materi pelajaran, melatih ketrampilan, menanamkan nilai-nilai moral yang
terkandung dalam materi pelajaran tersebut. Untuk itu widyaiswara harus mampu
membangkitkan gairah dan minat belajar. Disinilah pentingnya pemahaman mengenai
model, metode dan strategi mengajar yang sesuai dengan siatuasi dan kondisi
peserta diklat.
Sebelum
memulai penyampaian materi, penulis biasanya menyampaikan pertanyaan bagaimana
perasaan peserta pada saat diklat? Biasanya jawaban yang diberikan peserta
beragam. Pertanyaan di awal ini bertujuan untuk membangun kedekatan dengan
peserta. Jika di awal pengajar dan peserta sudah terjalin hubungan yang baik,
maka penulis yakin proses pembelajaran berikutnya akan mudah dan menyenangkan.
Ketika
peserta berbagi pengalaman dan perasaan mereka, pengajar sebagai fasilitator
mendengarkan dengan penuh perhatian dan tidak mempertanyakan atau membalas
perasaan yang diungkapkan. Selain itu pengajar juga harus mengetahui model,
strategi dan metode mengajar yang tepat dihubungkan dengan materi pembelajaran.
Penulis biasanya menggunakan metode yang berbeda untuk satu materi tertentu.
Misalnya menggabungkan antara metode ceramah, kartu, teknik jigsaw, simulasi
dan bermain peran. Pemahaman mengenai teknik dan metode pembelajaran ini hal
yang niscaya agar proses pembelajaran variatif dan tidak membosankan.
4. Menjadi pengambil keputusan
Widyaiswara
adalah manajer di kelas. Dia yang harus merencanakan, melaksanakan dan
mengevaluasi pembelajaran termasuk membuat keputusan untuk mendinamisasikan
kelas agar proses belajar mengajar berlangsung secara efektif dan efisien
dengan interaksi belajar mengajar yang lancar dan menyenangkan.
Psikologi
pendidikan berusaha untuk mewujudkan tindakan psikologis yang tepat dalam
interaksi antar setiap faktor pendidikan. Pengetahuan psikologis tentang
peserta didik menjadi hal yang sangat penting dalam pendidikan. Karena itu,
pengetahuan tentang psikologi pendidikan seharusnya menjadi kebutuhan bagi para
pengajar, bahkan bagi tiap orang yang menyadari dirinya sebagai pendidik.
Proses belajar mengajar harus disesuaikan dengan prinsip psikologi antara lain:
a. Materi diberikan mulai dari bahan yang sederhana kepada
bahan yang lebih kompleks;
b. Materi diberikan dari hal yang konkret kepada hal yang
lebih abstrak;
c. Materi diberikan dari hal yang umum kepada hal yang
khusus;
d. Meteri diberikan dari hal yang diketahui kepada yang belum
diketahui;
e. Materi diberikan dari proses induksi ke proses deduksi
atau sebaliknya (Tabrani : 90)
ARTIKEL
3 ( PSIKOLOGI PENDIDIKAN )
Aliran-Aliran
psikologi pendidikan
·
Nativisme
Aliran
ini berpandangan bahwa perkembangan individu ditentukan oleh faktor bawaan
sejak lahir. Faktor lingkungan kurang berpengaruh terhadap pendidikan dan
perkembangan anak. Oleh karena itu, hasil pendidikan ditentukan oleh bakat yang
dibawa sejak lahir. Dengan demikian, menurut aliran ini, keberhasilan belajar
ditentukan oleh individu itu sendiri. Nativisme berpendapat, jika anak memiliki
bakat jahat dari lahir, ia akan menjadi jahat, dan sebaliknya jika anak
memiliki bakat baik, ia akan menjadi baik. Pendidikan anak yang tidak sesuai
dengan bakat yang dibawa tidak akan berguna bagi perkembangan anak itu sendiri.
·
Naturalisme
Naturalisme
mempunyai pandangan bahwa setiap anak yang lahir di dunia mempunyai pembawaan
baik, namun pembawaan tersebut akan menjadi rusak karena pengaruh lingkungan,
sehingga aliran Naturalisme sering disebut Negativisme.
·
Empirisisme
anak
yang lahir ke dunia seperti kertas putih yang bersih. Kertas putih akan
mempunyai corak dan tulisan yang digores oleh lingkungan. Faktor bawaan dari
orangtua (faktor keturunan) tidak dipentingkan. Pengalaman diperoleh anak
melalui hubungan dengan lingkungan (sosial, alam, dan budaya). Pengaruh empiris
yang diperoleh dari lingkungan berpengaruh besar terhadap perkembangan anak.
Menurut aliran ini, pendidik sebagai faktor luar memegang peranan sangat
penting, sebab pendidik menyediakan lingkungan pendidikan bagi anak, dan anak akan
menerima pendidikan sebagai pengalaman. Pengalaman tersebut akan membentuk
tingkah laku, sikap, serta watak anak sesuai dengan tujuan pendidikan yang
diharapkan.
Misalnya: Suatu keluarga yang kaya raya ingin memaksa anaknya menjadi
pelukis. Segala alat diberikan dan pendidik ahli didatangkan. Akan tetapi
gagal, karena bakat melukis pada anak itu tidak ada. Akibatnya dalam diri anak
terjadi konflik, pendidikan mengalami kesukaran dan hasilnya tidak optimal.
·
Interaksionisme
Manusia
lahir di dunia ini telah memiliki bakat baik dan buruk, sedangkan perkembangan
manusia selanjutnya akan dipengaruhi oleh lingkungan. Jadi, faktor pembawaan
dan lingkungan sama-sama berperan penting. Manusia yang mempunyai pembawaan
baik dan didukung oleh lingkungan pendidikan yang baik akan menjadi semakin
baik. Sedangkan bakat yang dibawa sejak lahir tidak akan berkembang dengan baik
tanpa dukungan lingkungan yang sesuai bagi perkembangan bakat itu sendiri.
Sebaliknya, lingkungan yang baik tidak dapat menghasilkan perkembangan anak
secara optimal jika tidak didukung oleh bakat baik yang dibawa anak. Dengan
demikian, menganggap bahwa mendidik sangat bergantung dan sangat perlu pada
faktor pembawaan atau bakat dan lingkungan.
·
Mengapa
manusia perlu dididik.
Menurut John Locke (1632-1704) mengajarkan
bahwa perkembangan pribadi ditentukan oleh faktor-faktor lingkungan, terutama
pendidikan.yang berkesimpulan bahwa tiap individu lahir sebagai kertas putih,
dan lingkungan itulah yang “menulisi” kertas putih itu. Maka Manusia perlu dididik
karena manusia ditentukan oleh lingkungannya yang mempengaruhi manusia itu
sendiri, sejak ia lahir sampai ke liang lahat. Maka lingkungan akan sangat
berpengaruh terhadap proses pendidikan anak.
·
Mengapa
pendidik harus berwibawa.
Sudah
seharusnya setiap orang mengakui bahwa dirinya adalah seorang guru/pendidik,
yang harus memiliki jiwa pendidik yang mendarah daging. Artinya, nilai-nilai
pendidikan tidak sekadar dihafal secara teoritis, tetapi telah menjadi bagian
dari perilaku dirinya, diantaranya kemampuan mengelola pembelajaran atau
mendidik peserta didik yang dapat mengaktualisasikan potensi yang dimilikinya.
Pendidik sering dianggap sebagai sosok yang memiliki kepribadian ideal. Oleh
karena itu, pribadi pendidik sering dianggap sebagai model atau panutan (yang
harus digugu dan ditiru). Di antaranya kepribadian pendidik yang mantap,
stabil, dewasa, arif, dan berwibawa, menjadi teladan bagi peserta didik,
berakhlak mulia, dan bersikap demokratis dan terbuka terhadap pembaruan dan
kritik.
·
Mengapa
keluarga disebut lingkungan yang pertama dan utama.
Keluarga
merupakan lembaga pendidikan tertua, bersifat informal, yang pertama dan utama
dialamai oleh anak serta lembaga pendidikan yang bersifat kodrati,
keluarga/orang tua bertanggung jawab memelihara, merawat, melindungi, dan
mendidik anak agar tumbuh dan berkembang dengan baik. Disinilah proses
pendidikan berawal, keluarga/orang tua adalah guru pertama dan utama bagi anak.
Orang tua adalah guru agama, bahasa dan sosial pertama bagi anak, kenapa
demikian? Karena orang tua adalah orang yang pertama kali mengajarkan anak
berbahasa dengan mengajari anak mengucapkan kata ayah, ibu, nenek, kakek dan
anggota keluarga lainnya. Orang tua atau keluarga adalah orang yang pertama
mengajarkan anak bersosial dengan lingkungan sekitarnya dan mampu mengarahkan,
membimbing dan mengembangkan potensi anak secara maksimal pada tahun-tahun
pertama kelahiran anak dimana anak belum disentuh oleh lingkungan lain, dalam
artian anak masih suci.
·
Siapakah
sebenarnya yang harus bertanggung jawab terhadap pendidikan anak dikeluarga
Orang
tua yang bertanggung jawab terhadap pendidikan anak dikeluarga, karena orang
tua sebagai Pendidik dalam keluarga yang berfungsi Sebagai pengalaman pertama
masa kanak-kanak, Menjamin kehidupan emosional anak, Menanamkan dasar
pendidikan moral, Memberikan dasar pendidikan sosial-agama dan budaya,
memelihara, merawat, melindungi, dan mendidik anak agar tumbuh dan berkembang
dengan baik.
BAB 3
PEMBAHASAN
Pada
artikel Pengertian dan Objek Psikologi Pembelajaran saya setuju mengenai
Psikologi pembelajaran yaitu psikologi
pembelajaran adalah cabang psikologi secara khusus mengkaji berbagai perilaku
individu dalam kaitannya dengan pendidikan, tujuannya untuk menemukan fakta,
generalisasi, dan teori psikologis yang berkaitan dengan pendidikan untuk
digunakan dalam upaya melaksanakan proses pendidikan yang efektif. Dan
objek psikologi pembelajaran adalah pendidik (guru) dan peserta didik (murid).
Yang dimana peranan psikologi yaitu : memahami siswa sebagai pelajar, memahami
prinsip dan teori pembelajaran, memilih metode-metode pengajaran, menetapkan
tujuan pembelajaran, menciptakan situasi pembelajaran yang kondusif, memilih
dan menetapkan isi pengajaran, membantu siswa yang mendapat kesulitan dalam
pembelajaran, memilih alat bantu pengajaran, menilai hasil pembelajaran,
memaham kepribadian dan profesi guru, membimbing kepribadian siswa.
Pada
Artikel Pentingnya Psikologi Pendidikan saya setuju karena Psikologi pendidikan
itu membaha bagaimana belajar, hasil belajar dan situasi belajar. Kelas adalah
sebuah lingkungan yang menjadi tempat interaksi antar peserta diklat, antara
peserta diklat dengan widyaiswara. Proses interaksi ini harus digunakan sebagai
dasar dalam mempertimbangkan perlakuan seperti apa yang akan diberikan kepada
peserta diklat. Perlakuan yang responsif ini diberikan agar secara psikologis
peserta diklat terus bergairah, antusias dan senang melakukan kegiatan serta
terlibat aktif dalam proses pembelajaran. Agar bisa mendapatkan situasi yang
“meriah” seperti diatas, widyaiswara harus memahami konsep psikologi pendidikan
agar dapat melaksanakan tugasnya secara profesional.
Pada
Artikel Aliran-Aliran psikologi pendidikan saya setuju dengan aliran
Nativisme yang dimana Aliran ini berpandangan bahwa perkembangan individu
ditentukan oleh faktor bawaan sejak lahir. Faktor lingkungan kurang berpengaruh
terhadap pendidikan dan perkembangan anak. Oleh karena itu, hasil pendidikan
ditentukan oleh bakat yang dibawa sejak lahir. Dengan demikian, menurut aliran
ini, keberhasilan belajar ditentukan oleh individu itu sendiri. Nativisme
berpendapat, jika anak memiliki bakat jahat dari lahir, ia akan menjadi jahat,
dan sebaliknya jika anak memiliki bakat baik, ia akan menjadi baik. Pendidikan
anak yang tidak sesuai dengan bakat yang dibawa tidak akan berguna bagi
perkembangan anak itu sendiri.
BAB 4
KESIMPULAN
Psikologi secara etimologi berasal dari dua suku kata yaitu psik (jiwa) dan
logos (ilmu). Atau psikologi disebut juga dengan ilmu jiwa. Sedangkan psikologi
secara terminologi adalah suatu ilmu yang menyelidiki serta mempelajari sikap,
tingkah laku atau aktivitas-aktivitas di mana sikap, tingkah laku, atau
aktivitas-aktivitas itu sebagai manifestasi hidup kejiwaan. Jadi, objek
psikologi adalah jiwa.
Awal
mula munculnya psikologi pembelajaran berawal dari tokoh pertama, William James
(1842-1910) memberikan serangkaian kuliah bertajuk “Talks to Teachers”. Dalam
kuliah ini ia mendiskusikan aplikasi psikologi untuk mendidik anak. Ia
menegaskan pentingnya mempelajari proses belajar dan mengajar di kelas guna
meningkatkan mutu pendidikan. Salah satu rekomendasinya adalah mulai mengajar
pada titik yang sedikit lebih tinggi di atas tingkat pengetahuan dan pemahaman
anak dengan tujuan untuk memperluas cakrawala pemikiran anak.
Psikologi
pendidikan adalah studi yang sistematis terhadap proses dan faktor-faktor yang
berhubungan dengan pendidikan. Sedangkan pendidikan adalah proses pertumbuhan
yang berlangsung melalui tindakan-tindakan belajar. Adanya kaitan yang sangat
kuat antara psikologi pendidikan dengan tindakan belajar. Karena itu, tidak
mengherankan apabila beberapa ahli psikologi pendidikan menyebutkan bahwa
lapangan utama studi psikologi pendidikan adalah soal belajar. Dengan kata
lain, psikologi pendidikan memusatkan perhatian pada persoalan-persoalan yang
berkenaan dengan proses dan faktor-faktor yang berhubungan dengan tindakan
belajar.