Rabu, 18 Mei 2016



ESSAY
REINFORCEMENT LOYALITAS PERAN DAN POSISI KADER SERTA OPTIMALISASI PROFESIONALISME BERLEMBAGA MENUJU MASYARAKAT HUMANIS TRANSENDEN







Nama : Arham
Angkatan : 2013











HIMPUNAN MAHASISWA ELEKTRONIKA
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS NEGERI MAKASSAR

Tema :
Reinforcement loyalitas peran dan posisi kader serta optimalisasi profesionalisme berlembaga menuju masyarakat humanis – transenden.
Dengan melihat tema diatas maka saya merujuk beberapa poin, yaitu :
1.      Apa pengertian dan jenis reinforcement ?
2.      Bagaimana proses pembentukan loyalitas ?
3.      Apa fungsi profesionalisme dalam organisasi ?
4.      Bagaimana Memaknai Peran dan Arti Kader dalam Dinamika Organisasi

·         Pengertian dan jenis reinforcement
Reinforcement sering diartikan sebagai penguatan, menurut Tanjung Hendri Penguatan adalah segala sesuatu yang digunakan seorang pimpinan untuk meningkatkan  atau  mempertahankan  tanggapan  khusus  individu.  Jadi  menurut teori   ini,   motivasi   seseorang   bekerja   tergantung   pada   penghargaan   yang diterimanya dan akibat dari yang akan dialaminya nanti. Teori ini menyebutkan bahwa perilaku seorang di masa mendatang dibentuk oleh akibat dari perilakunya yang sekarang.
Jenis reinforcement ada empat, yaitu: (a) positive reinforcement (penguatan positif), yaitu penguatan yang dilakukan ke arah kinerja yang positif; (b) negative reinforcement (penguatan negatif), yaitu penguatan yang dilakukan karena mengurangi atau mcnghentikan keadaan yang tidak disukai. Misalnya, berupaya cepat-cepat menyelesaikan  pekerjaan karena tidak   tahan   mendengar   atasan mengomel  terus-menerus; (c)  extinction  (peredaan),  yaitu  tidak  mengukuhkan suatu perilaku, sehingga perilaku tersebut mereda atau punah sama sekali. Hal ini dilakukan untuk mengurangi perilaku yang tidak diharapkan; (d) punishment, yaitu konsekuensi yang tidak menyenangkan dari tanggapan perilaku tertentu.
·         Proses pembentukan loyalitas
       Berbicara loyalitas maka perlu dipahami dulu arti/ definisi loyalitas.  Definisi loyalitas dalam prakteknya seringkali dijabarkan dengan sangat berbeda-beda. Menurut kamus bahasa Indonesia maka pengertian loyalitas sesungguhnya merupakan kepatuhan dan kesetiaan. Selain itu Loyalitas juga bisa dikatakan setia pada sesuatu dengan rasa cinta, sehingga dengan rasa loyalitas yang tinggi seseorang merasa tidak perlu untuk mendapatkan imbalan dalam melakukan sesuatu untuk orang lain/ organisasi tempat dia meletakkan loyalitasnya.
Secara etimologis kata loyalitas selain mengandung unsur kepatuhan dan kesetiaan ternyata juga mengandung banyak unsur dimana unsur-unsur tersebut saling bersinergy dalam membentuk loyalitas seseorang.
       Melihat dari arti kata diatas menunjukkan bahwa dalam loyalitas terkandung beberapa unsur diantaranya pengorbanan, kepatuhan, komitmen, ketaatan dan kesetiaan. Hal ini menunjukkan bahwa terbentuknya sikap loyal melalui proses yang sangat rumit karena dipengaruhi interaksi dua belah pihak. Mengacu dari pengertian loyalitas diatas dapat dikatakan bahwa seseorang dikatakan memiliki loyalitas jika seseorang tersebut memiliki kepatuhan dan kesetiaan terhadap organisasi/seseorang. Ada 4 tahapan dalam pembentukan loyalitas yaitu :
1.         Cognitive Loyalty ( Kesediaan berdasarkan kesadaran ).       
Pada tahapan pertama loyalitas ini, informasi yang tersedia mengenai suatu yang diinginkan menjadi faktor utama. Tahapan ini didasarkan pada kesadaran dan harapan seseorang
2.         Affective Loyalty ( Kesetiaan berdasarkan pengaruh )
Tahapan loyalitas selanjutnya didasarkan pada pengaruh. Pada tahap ini dapat dilihat bahwa pengaruh memiliki kedudukan yang kuat, baik dalam perilaku maupun sebagai komponen yang mempengaruhi kepuasan. Kondisi ini sangat sulit dihilangkan karena loyalitas sudah tertanam dalam pikiran seseorang bukan hanya kesadaran maupun harapan.
3.         Conative Loyalty ( Kesetiaan berdasarkan komitmen )
Tahapan loyalitas ini mengandung komitmen perilaku yang tinggi untuk melakukan seluruh permintaan yang ada. Perbedaan dengan tahapan sebelumnya adalah Affective Loyalty hanya terbatas pada motivasi, sedangkan Behavioral Commitment memberikan hasrat untuk melakukan suatu tindakan, hasrat untuk melakukan tindakan berulang atau bersikap loyal merupakan tindakan yang dapat diantisipasi namun tidak dapat disadari.
4.         Action Loyalty ( Kesetiaan dalam bentuk tindakan )
Tahap ini merupakan tahap akhir dalam loyalitas. Tahap ini diawali dengan suatu keinginan yang disertai motivasi, selanjutnya diikuti oleh kesiapan untuk bertindak dan berkeinginan untuk mengatasi seluruh hambatan untuk melakukan tindakan.
·         Fungsi profesionalisme dalam organisasi
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, profesionalisme (profésionalisme) mempunyai makna; mutu, kualitas, dan tindak tanduk yang merupakan ciri suatu profesi atau yang profesional. Profesionalisme merupakan sikap dari seorang profesional. Menurut H. Sumitro Maskun (1997: 7) bahwa suatu profesionalisme adalah merupakan suatu bentuk atau bidang kegiatan yang dapat memberikan pelayanan dengan spesialisasi dan intelektualitas yang tinggi. Jadi, profesionalisme adalah tingkah laku, kepakaran, spesialisasi atau kualiti dari seseorang yang profesional.

Organisasi (Yunani: ὄργανον, organon - alat) adalah suatu kelompok orang dalam suatu wadah untuk tujuan bersama. Dalam ilmu-ilmu sosial, organisasi dipelajari oleh periset dari berbagai bidang ilmu, terutama sosiologi, ekonomi, ilmu politik, psikologi, dan manajemen. Kajian mengenai organisasi sering disebut studi organisasi (organizational studies), perilaku organisasi (organizational behaviour), atau analisis organisasi (organization analysis).

Kalau dalam cangkupan Kelompok atau pelajar di bedakan menjadi dua yaitu Komunitas adalah sebuah kelompok sosial dari beberapa organisme yang berbagi lingkungan, umumnya memiliki ketertarikan dan habitat yang sama. Dalam komunitas manusia, individu-individu di dalamnya dapat memiliki maksud, kepercayaan, sumber daya, preferensi, kebutuhan, risiko, kegemaran dan sejumlah kondisi lain yang serupa.

 Komunitas berasal dari bahasa Latin communitas yang berarti "kesamaan", kemudian dapat diturunkan dari communis yang berarti "sama, publik, dibagi oleh semua atau banyak". Dan Organisasi pelajar adalah organisasi yang beranggotakan pelajar untuk mewadahi bakat, minat dan potensi mahasiswa yang dilaksanakan di dalam kegiatan ko dan ekstra kurikuler.

Di era sekarang profesionalisme organisasi seakan-akan hanya dikesampingkan saja disebabkan pengajaran yang diberikan oleh organisasi sangat minim tak terkecuali organisasi terpelajar, pengajaran yang hanya bersifat pengetahuan dan pengajaran menjadi panitia acara tidak akan bisa membentuk karakter orang yang punya prefesionalisme organisasi dan tidak terlepas oleh pengurus organisasi itu.

Apalagi organisasi pelajar dan Komunitas yang mencangkup antara organisasi tidak boleh mempropaganda organisasi lain dan memberi ruang organisasi yang sama, ini bisa mengakibatkan permusuhan di dalam Komunitas itu. Jadi jika ada organisasi atau komunitas yang tidak punya etika atau sopan santun dalam perbuatannya, apalagi mengharamkan organisasi lain sepatutnya di beri sangsi tegas biarpun itu senior atau alumni.

Profesionalisme sangat diperlukan dalam sebuah organisasi, di mana setiap orang dituntut untuk bekerja secara profesional. Jika dalam sebuah bidang organisasi tidak ditemuka profesionalisme, maka yang akan terjadi adalah timbulnya keresahan dalam organisasi tersebut dan mengakibatkan pekerjaan yang diharapkan dapat selesai menjadi terabaikan atau terbengkalai karena kurang adanya kepedulian terhadap pekerjaan tersebut.

Profesionalisme sangat diperlukan dan penting, karena tanpa adanya hal tersebut maka akan muncul kecemburuan sosial dalam suatu bidang pekerjaan dan profesionalisme sendiri membutuhkan sebuah tanggungjawab kepada setiap orang untuk bertanggungjawab atas tugas atau pekerjaan yang telah diserahkan kepadanya dan harus menyelesaikan tepat pada waktu yang telah ditentukan.

Dalam berorganisasi etika profesionalisme juga sangat diperlukan, antara lain tampilkan rasa percaya diri kamu, yakinlah terhadap kemampuan diri kamu bahwa kamu bisa, jangan minder dan usahakan selalu rendah hati, yakinlah setiap orang pasti memiliki kekurangan dan kelebihan, jadi kita tidak boleh bersombong diri atau merendahkan orang lain, usahakan mampu berkomunikasi dengan diri sendiri.

Yang paling penting adalah menjaga kedisiplinan kita, seperti datang tepat waktu pada saat ada pengumpulan anggota organisasi, tidak meninggalkan tugas yang telah diberikan oleh ketua karena itu bukanlah sikap professional. Selain itu menggunakan waktu dengan sebaik mungkin sehingga tidak ada waktu yang terbuang sia-sia. Etika salam juga salah satu orang yang memilliki jiwa profesionalisme, contohnya pada saat bertemu teman kita hendaknya memberikan 3-S, yaitu senyum, salam, sapa. Itu akan membuat kita akan dipandang sebagai orang yang mempunyai jiwa profesional dan ramah.

·         maknai Peran dan Arti Kader dalam Dinamika Organisasi
Dalam sebuah organisasi ada yang dinamakan kader.Definisi kader menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia(KBBI) adalah orang yang akan diharapkan untuk memegang peranan penting dalam pemerintahan,institusi,atau organisasi. Namun dalam kenyatannya kader lebih diidentikkan sebagai sosok yang masuk kedalam organisasi tetapi mereka belum menjadi pengurus dalam organisasi tersebut. Penafsiran tersebut yang mungkin membatasi para pelakunya atau peminat organisasi yang mau terjun kedalam sebuah organisasi dikarenakan masih adanya sekat atau pembatas dalam hal penggolongan tersebut.

Sebenarnya masalah-masalah tersebut bukan menjadi hal yang urgent. Menjadi seorang kader bukanlah hanya sebatas menghadiri forum forum, kajian kajian atau kegiatan yang diadakan organisasi yng bersangkutan. Terlepas dari masalah itu kader seharusnya juga bisa disejajarkan dengan Pimpinan. Analogi tersebut misalnya bisa berupa tentang saran maupun masukan supaya kedepannya kader juga bisa berkontribusi positif dalam membangun dan mengembangkan organisasi ke arah kemajuan.

Tanpa adanya sekat atau pembatas antara kader dan pimpinan, seharusnya harus ada pendekatan pendekatan dalam hal penanaman kader. Pendekatan pendekatan tersebut bisa berupa pendekatan manusiawi, yaitu pendekatan secara fisik dengan cara memanusiakan kadernya, bahwa kader adalah calon pemimpin yang harus disikapi dan harus dipersiapkan kelak ketika menjadi seorang pemimpin. Pendekatan progam atau tugas adalah calon pemimpin akan lebih terampil bertambah pengalaman dan wawasan ketika seorang pemimpin itu diberi amanahPendekatan Idealisme yaitu pendekatan yang merupakan upaya memberikan roh,ajaran dan filosofi dibalik penegasan.

Proses pendekatan ini akan menjadi lebih penting karena hakikat apa yang ada dalam  organisasi memiliki nilai kehidupan yang tinggi apabila mampu dikaitkan dengan makna ibadah sesungguhnya.Dengan berbagai pendekatan tersebut seharusnya kita juga harus dapat mengaplikasikannya dalam pembentukan kader.

Rabu, 11 Mei 2016



SOSOK SEORANG IBU

 
Ibu adalah adalah sosok yang luar biasa dalam kehidupan kita. Ibu adalah sosok perempuan tangguh yang selalu tangguh dan tegar ketika badai kehidupan menghempas. Ibu secara fisik boleh saja merupakan sosok yang lemah, namun ketika harus menyelamatkan anak-anaknya, ia bisa berubah menjadi jiwa pemberani dan  tegas. Rela pasang badan tatkala membela anak-anaknya dari ancaman dan bahaya apa pun. Dan tak jarang pula tampil menjadi sosok penyelamat keluarga saat sang ayah tengah teperosok dalam krisis kehidupannya.

Namun, seiring dengan usianya yang kian mendekati senja, kerut di kening dan di pipinya adalah bukti kelelahan dari pengorbanan yang luar biasa. Tangan yang dulunya halus, kian hari menjadi kasar karena kerasnya memahat bongkahan batu kehidupan. Tenaganya kian habis habis dimakan waktu, hingga tak lagi sanggup sekadar mengangkat tubuh rapuhnya. Kakinya semakin lunglai, dipaksa untuk terus diseret demi mengejar harapan. Penglihatan yang kian kabur, tetap dipaksakan untuk menatap masa depan yang harus dijalaninya . Semakin jelas guratan-guratan penderitaan dalam setiap langkah yang telah dilaluinya. Semuanya itu, dilakukan hanya untuk anak-anak yang dicintainya.Betapa rida dan keikhlasan doa ibu begitu meringankan langkah seorang anak dalam mengarungi kehidupan. Sehingga tidak sedikit orang yang sukses dalam kehidupannya adalah orang-orang yang sangat dekat dengan ibunya.

Nama-nama Surga dan Neraka serta Penghuninya


NERAKA
1. NERAKA HAWIYAH: diperuntukkan atas orang-orang yang ringan timbangan amalnya, yaitu mereka yang selama hidup di dunia mengerjakan kebaikan bercampur keburukan. Orang muslim laki-laki maupun perempuan yang perbuatan sehari- harinya tidak sesuai dengan ajaran Islam, maka Hawiyah sebagai tempat tinggalnya. Mereka ini yaitu orang yang tidak mau menerima syariat Islam, tidak mau memakai jilbab (bagi wanita), memakai sutra dan emas (bagi lak- laki), mencari rejeki dengan cara tidak halal, memakan riba dan lain sebagainya. Dalam Al-Qur’an terdapat pada surah (Al-Qori’ah ayat 8-11)
2. NERAKA JAHIM adalah neraka sebagai tempat penyiksaan atas orang-orang musyrik atau orang-orang yang menyekutukan ALLAH, maka sesembahan mereka akan datang untuk menyiksa mereka. Orang yang di dunia menyembah sapi (bangsa Hindu) maka sapi yang akan menyiksa orang itu. Orang yang menyembah patung berbentuk hewan, maka patung itu yang akan menyiksanya. Dan demikian selanjutnya. Syirik disebut sebagai dosa yang paling besar menurut ALLAH, karena syrik berarti mensekutukan ALLAH atau menganggap ada mahluk yang lebih hebat dan berkuasa sehebat ALLAH. Syirik dapat pula berarti menganggap ada Tuhan lain selain ALLAH. Dalam Al-Qur’an terdapat pada surah (As-Syu’araa, ayat 91), (Asy-Syu’ara’) dan (Surah As-Saffat)
3. NERAKA SAQAR adalah tempat untuk orang-orang munafik, yaitu orang-orang yang mendustakan (tidak mentaati) perintah ALLAH dan Rasulullah. Mereka mengetahui bahwa ALLAH sudah menentukan hukum Islam melalui lisan Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, tetapi mereka meremehkan syariat (hukum) Islam. Maka dibakar dalam api adalah hukuman untuk mereka. Nama neraka ini tercantum dalam Al-Quran Surah (Al-Muddatsir ayat 26-27,42)
4. NERAKA LAZZA: neraka yang bergejolak apinya dan mengelupaskan kulit kepalanya. (QS:70. Al Ma´aarij] 15-18)
5. NERAKA HUTHAMAH: itu disediakan untuk orang yang suka mengumpulkan harta, serakah dan menghina orang-orang miskin. Mereka berpaling dari agama, tidak mau bersedekah dan tidak mau pula membayar zakat. Mereka juga memasang wajah masam apabila ada orang miskin yang meminta bantuan. Maka ALLAH membalas dengan menyiksa mereka dengan cara menguliti dan mengelupaskan kulit muka mereka. Serta membakar mereka semau yang ALLAH mau. NERAKA HUTHAMAH disediakan untuk gemar mengumpulkan harta berupa emas, perak atau platina, mereka serakah tidak mengeluarkan zakat hartanya dan mencela menghina orang-orang miskin. Maka di Huthamah harta mereka dibawa dan dibakar untuk diminumkan sebagai siksa kepada manusia pengumpat pengumpul harta. Dalam Al-Qur’an terdapat pada surah (Al-Humazah)
6. NERAKA SAIR diisi oleh orang-orang kafir. Dan orang yang memakan harta anak yatim. Kafir berasal dari kata kufur yang berarti ingkar atau menolak. Sehingga kafir dapat diartikan menolak adanya ALLAH atau dengan membantah perintah ALLAH dan Rasul-NYA. Jadi manusia kafir itu terdiri dari: Orang yang tidak beragama Islam atau orang yang tidak mau membaca syahadat. Orang Islam yang tidak mau shalat. Orang Islam yang tidak mau puasa. Orang Islam yang tidak mau berzakat. Didalam Al-Qur’an terdapat pada (An-Nisa’ ayat 10), (Al-Mulk ayat 5,10,11)
7. NERAKA WAIL disediakan untuk para pengusaha dan pedagang yang culas, mengurangi timbangan, mencalo barang dagangan untuk mendapatkan keuntungan yang berlipat. Maka dagangan mereka dibakar dan dimasukkan ke dalam perut mereka sebagai azab atas dosa-dosa mereka. Surah (Al-Tatfif) dan (Surah At-Tur). Nama neraka ini tercantum dalam Al-Quran Surah (Al-Muthaffifin, ayat 1-3)
8. NERAKA JAHANAM: Neraka tempat penyiksaan itu kemudian banyak disebut orang dengan nama jahanam. Neraka yang paling dalam dan berat siksaannya. Al-Qur’an surah (Al Hijr, 43-44). “Bahwasanya orang-orang kafir dan orang aniaya itu tidak akan diampuni Allah, dan tidak pula ditunjuki jalan, melainkan jalan ke Neraka Jahannam. Mereka kekal dalam neraka itu selama-lamanya. Yang demikian itu mudah sekali bagi Allah”(An-Nisa: 169)
SURGA
1. SURGA FIRDAUS: surga yang diperuntukan bagi orang yang khusyuk sholatnya, menjauhkan diri dari perbuataan sia-sia, aktif menunaikan zakat, menjaga kemaluannya, memelihara amanah, menepati janji, dan memelihara sholatnya. dalam Al-Qur’an terdapat pada surah (Al Kahfi, ayat 107) dan surah(Al Mu’minuun, ayat 9-11).
2. SURGA ‘ADN: surga yang diperuntukkan bagi orang yang bertakwa kepada Allah (An Nahl:30-31), benar-benar beriman dan beramal shaleh (Thaha:75-76), banyak berbuat baik (Fathir: 32-33), sabar, menginfaqkan hartanya dan membalas kejahatan dengan kebaikan (Ar-Ra’ad:22-23)
3. SURGA NAIM: surga yang diperuntukkan bagi orang-orang yang benar-benar bertakwa kepada Allah dan beramal shaleh. dalam Al-Qur’an terdapat pada surah (Luqman, ayat 8) dan (Al Hajj, ayat 56)
4. SURGA MA’WA: surga yang diperuntukan bagi orang-orang yang bertakwa kepada Allah (An Najm: 15), beramal shaleh (As Sajdah: 19), serta takut kepada kebesaran Allah dan menahan hawa nafsu (An Naziat : 40-41)
5. SURGA DARUSSALAM: surga yang diperuntukkan bagi orang yang kuat imannya dan Islamnya, memperhatikan ayat-ayat Allah serta beramal shaleh. Sebagaimana firman Allah subhanahu wata’ala,“Bagi mereka (disediakan) Darussalam (surga) pada sisi Rabbnya dan Dialah Pelindung mereka disebabkan amal-amal sholeh yang selalu mereka kerjakan.” (QS. 6:127)
6. SURGA DARUL MUQAMAH: surga yang diperuntukkan bagi orang yang bersyukur kepada Allah. Kata Darul Muaqaamah berarti suatu tempat tinggal dimana di dalamnya orang-orang tidak pernah merasa lelah dan tidak merasa lesu. Tempat ini diperuntukkan kepada orang-orang yang bersyukur sebagaimana yg disebutkan di dalam surat (Faathir ayat 35).
7. SURGA AL-MAQAMUL AMIN: surga yang diperuntukkan bagi orang-orang yang bertakwa. Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada dalam tempat yang aman (Ad Dukhan, ayat 51)
8. SURGA KHULDI: surga yang diperuntukkan bagi orang yang taat menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangannya (orang-orang yang bertakwa). Katakanlah: “Apa (azab) yang demikian itukah yang baik, atau surga yang kekal yang Telah dijanjikan kepada orang-orang yang bertaqwa?” dia menjadi balasan dan tempat kembali bagi mereka?” (Al Furqaan, ayat 15)

Kamis, 31 Maret 2016



BAB 1
PENDAHULUAN
A.    LATAR BELAKANG
Psikologi berasal dari bahasa Yunani “psyche” yang berarti jiwa dan “logos” yang berarti ilmu. Jadi secara etimologis, psikologi berarti ilmu jiwa. Pada awalnya psikologi digunakan oleh para filosof untuk memahami akal pikiran dan tingkah laku makhluk hidup. Namun selanjutnya psikologi digunakan secara meluas untuk mempelajari banyak bidang. Pada akhirnya psikologi banyak digunakan untuk memahami tingkah laku manusia, melalui penyelidikan tentang mengapa, kapan dan dengan cara bagaimana tingkah laku seseorang itu muncul.
Muhibbin Syah menyimpulkan bahwa psikologi adalah ilmu pengetahuan yang menyelidiki dan membahas tingkah laku terbuka dan tertutup pada manusia, baik selaku individu maupun kelompok, dalam hubungannya dengan lingkungan.
Pendidikan berasal dari kata “didik”. Mendidik berarti memelihara dan memberikan latihan, yang memerlukan adanya ajaran terutama mengenai akhlak dan kecerdasan.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia pendidikan adalah proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan.
Psikologi Pendidikan
Barlow mendefinisikan psikologi pendidikan sebagai suatu pengetahuan berdasarkan riset psikologis yang menyediakan serangkaian sumber-sumber untuk membantu melaksanakan fungsi dalam proses belajar mengajar secara lebih efektif. Sedangkan secara istilah psikologi pendidikan adalah psikologi yang khusus menguraikan kegiatan-kegiatan atau aktivitas-aktivitas manusia dalam hubungannya dengan situasi pendidikan, misalnya bagaimana cara menarik perhatian agar pelajaran dapat dengan mudah diterima, bagaimana cara belajar dan sebagainya.
Maka psikologi pendidikan adalah ilmu yang mempelajari  tentang perilaku manusia di dalam dunia pendidikan yang meliputi  studi sistematis tentang proses-proses dan faktor-faktor yang berhubungan dengan pendidikan manusia yang tujuannya untuk mengembangkan dan meningkatkan koefisien di dalam pendidikan. Psikologi pendidikan pada dasarnya berorientasi pada proses kegiatan orang-orang yang belajar dan mengajar termasuk pendekatan, strategi, hasil, metode belajar mengajar yang digunakan baik pembelajar maupun pengajar. Pada akhirnya psikologi pendidikan dapat digunakan sebagai pedoman praktis disamping sebagai kajian teoritis karena psikologi pendidikan pada dasarnya merupakan salah satu disiplin psikologi yang meyelidiki masalah-masalah psikologi yang terjadi dalam dunia pendidikan.
Oleh karena itu objek kajian psikologi pendidikan, selain teori-teori psikologi pendidikan sebagai ilmu, tetapi lebih condong pada aspek psikologis peserta didik, khususnya ketika mereka terlibat dalam proses pembelajaran.
Menurut Glover dan Ronning objek kajian psikologi pendidikan mencakup topik-topik tentang pertumbuhan dan perkembangan peserta didik, hereditas dan lingkungan, perbedaan individual peserta didik, potensi dan karakteristik tingkah laku peserta didik, pengukuran proses dan hasil pendidikan dan pembelajaran, kesehatan mental, motivasi dan minat, serta disiplin lain yang relevan.
Psikologi pendidikan adalah studi yang sistematis terhadap proses dan faktor-faktor yang berhubungan dengan pendidikan. Sedangkan pendidikan adalah proses pertumbuhan yang berlangsung melalui tindakan-tindakan belajar. Adanya kaitan yang sangat kuat antara psikologi pendidikan dengan tindakan belajar. Karena itu, tidak mengherankan apabila beberapa ahli psikologi pendidikan menyebutkan bahwa lapangan utama studi psikologi pendidikan adalah soal belajar. Dengan kata lain, psikologi pendidikan memusatkan perhatian pada persoalan-persoalan yang berkenaan dengan proses dan faktor-faktor yang berhubungan dengan tindakan belajar.
Untuk memperjelas pertimbangan-pertimbangan psikologi pendidikan  yang melibatkan peserta didik ,berikut ini diketengahkan uraian tentang pengertian epsikologi pendidikan  dan ruang lingkup pskikologi pendidikan,perkembangan psikologi pendidikan,aliran-aliran psikologi pendidikan,metode-metode psikologi pendidikan dan hubungan psikologi pendidikan dengan bimbingan  konseling.




















BAB 2
RINGKASAN MATERI
ARTIKEL 1 (PENGERTIAN DAN OBJEK  PSIKOLOGI PEMBELAJARAN )
Pengertian dan Objek Psikologi Pembelajaran
      Psikologi secara etimologi berasal dari dua suku kata yaitu psik (jiwa) dan logos (ilmu). Atau psikologi disebut juga dengan ilmu jiwa. Sedangkan psikologi secara terminologi adalah suatu ilmu yang menyelidiki serta mempelajari sikap, tingkah laku atau aktivitas-aktivitas di mana sikap, tingkah laku, atau aktivitas-aktivitas itu sebagai manifestasi hidup kejiwaan. Jadi, objek psikologi adalah jiwa.
      Sedangkan, psikologi pembelajaran secara etimologi berasal dari dua kata yaitu psikologi dan pembelajaran. Pengertian psikologi telah dibahas sebelumnya, dan pengertian pembelajaran adalah suatu proses yang dilakukan oleh individu untuk memperoleh suatu perubahan perilaku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil dari pengalaman individu itu sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya.
Beberapa prinsip yang menjadi landasan pengertian tersebut ialah :
·         Pembelajaran sebagai suatu usaha memperoleh perubahan perilaku. Prinsip ini bermakna bahwa prosees pembelajaran itu ialah adanya perubahan perilaku dalam diri individu.
·         Hasil pembelajarn ditandai dengan perubahan perilaku secara keseluruhan.
·         Pembelajaran merupakan suatu proses. Prinsip ini mengandung makna bahwa pembelajaran merupakan suatu aktifitas yang berkesinambungan.
·         Proses pembelajaran terjadi karena adanya sesuatu yang mendorong dan ada suatu tujuan yang ingin dicapai.
·         Pembelajaran merupakan suatu pengalaman.
     
Jadi, psikologi pembelajaran adalah cabang psikologi secara khusus mengkaji berbagai perilaku individu dalam kaitannya dengan pendidikan, tujuannya untuk menemukan fakta, generalisasi, dan teori psikologis yang berkaitan dengan pendidikan untuk digunakan dalam upaya melaksanakan proses pendidikan yang efektif. Dan objek psikologi pembelajaran adalah pendidik (guru) dan peserta didik (murid).
·         Sejarah Munculnya Psikologi Pembelajaran
Awal mula munculnya psikologi pembelajaran berawal dari tokoh pertama, William James (1842-1910) memberikan serangkaian kuliah bertajuk “Talks to Teachers”. Dalam kuliah ini ia mendiskusikan aplikasi psikologi untuk mendidik anak. Ia menegaskan pentingnya mempelajari proses belajar dan mengajar di kelas guna meningkatkan mutu pendidikan. Salah satu rekomendasinya adalah mulai mengajar pada titik yang sedikit lebih tinggi di atas tingkat pengetahuan dan pemahaman anak dengan tujuan untuk memperluas cakrawala pemikiran anak.
Tokoh kedua, John Dewey (1859-1952) merupakan motor penggerak pengaplikasian psikologi dalam tingkat praktis, sehingga kemudian ia membangun laboratorium psikologi pendidikan pertama di Universitas Columbia Amerika Serikat (1894).
Beberapa kajian yang penting darinya adalah :
1.      Kita mendapatkan pandangan tentang anak sebagai pembelajar aktif (active learning), dimana anak bukan pasif duduk diam menerima pelajaran tetapi juga aktif agar proses belajar anak akan lebih baik.
2.      Pendidikan harus difokuskan pada anak secara keseluruhan dan kemampuan anak untuk beradaptasi dengan lingkungannya. Dewey percaya bahwa anak-anak seharusnya tidak mendapatkan pelajaran akademik saja, tetapi juga harus mempelajari cara untuk berpikir dan beradaptasi dengan lingkungan luar sekolah, seperti mampu untuk memecahkan masalah dengan baik.
3.      Dia juga berpendapat bahwa semua anak berhak mendapatkan pendidikan yang selayaknya, mulai dari kaya dan miskin, laki-laki dan perempuan, semua golongan etnis, sampai pada semua lapisan ekonomi-sosial.

Tokoh ketiga, E.L Thorndike (1874-1949) berpendapat bahwa salah satu tugas pendidikan di sekolah yang paling penting adalah menanamkan keahlian penalaran anak. Thorndike sangat ahli dalam melakukan studi belajar dan mengajar secara ilmiah. Thorndike mengajukan gagasan bahwa psikologi pendidikan harus punya basis ilmiah dan harus berfokus pada pengukuran.

ARTIKEL 2 (PENTINGNYA PSIKOLOGI PENDIDIKAN DALAM PROSES BELAJAR MENGAJAR )
Pentingnya Psikologi Pendidikan
            Secara garis besar banyak ahli membatasi objek kajian psikologi pendidikan menjadi tiga macam:
1.    Mengenai “belajar”, yang meliputi teori-teori, prinsip-prinsip, dan ciri-ciri khas perilaku belajar peserta didik, dan sebagainya;
2.    Mengenai “proses belajar”, yakni tahapan perbuatan dan peristiwa yang terjadi dalam kegiatan belajar peserta didik;
3.    Mengenai “situasi belajar”, yakni suasana dan keadaan lingkungan, baik bersifat fisik maupun nonfisik yang berhubungan dengan kegiatan belajar peserta didik.
Widyaiswara adalah PNS yang diangkat sebagai pejabat fungsional dengan tugas, tanggung jawab, wewenang, dan hak untuk melakukan kegiatan dikjartih PNS, evaluasi dan pengembangan diklat pada lembaga diklat pemerintah. Sebagai tenaga dikjartih, dalam melakukan kegiatannya widyaiswara harus menyesuaikan proses belajar mengajar dengan situasi dan kondisi peserta diklat. Hal ini bertujuan agar pembelajaran dapat tercapai secara efektif.
Kelas adalah sebuah lingkungan yang menjadi tempat interaksi antar peserta diklat, antara peserta diklat dengan widyaiswara. Proses interaksi ini harus digunakan sebagai dasar dalam mempertimbangkan perlakuan seperti apa yang akan diberikan kepada peserta diklat. Perlakuan yang responsif ini diberikan agar secara psikologis peserta diklat terus bergairah, antusias dan senang melakukan kegiatan serta terlibat aktif dalam proses pembelajaran. Agar bisa mendapatkan situasi yang “meriah” seperti diatas, widyaiswara harus memahami konsep psikologi pendidikan agar dapat melaksanakan tugasnya secara profesional.

Manfaat yang dapat diperoleh pengajar yang memahami psikologi pendidikan antara lain :
1.    Pemahaman proses perkembangan peserta didik yang dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam pelaksanaan proses belajar mengajar. Hal ini penting agar dapat dilakukan penyesuaian dengan tahap perkembangan ranah cipta peserta diklat sehingga mereka lebih mudah mencerna dan memahami materi yang disampaikan. Contoh nyata adalah ketika penulis berada di kelas diklat PBJ. Pesera berasal dari latar belakang yang beragam. Pengalaman di kantor selama melaksanakan pekerjaan sangat beragam. Di awal penulis melakukan profiling peserta untuk mengetahui sejauh mana interaksi mereka dengan pekerjaan yang berhubungan dengan teknis diklat. Biasanya kondisi peserta sangat beragam. Ada yang sudah berpengalaman dan lama bekerja di bagian tersebut. Ada yang sekedar mengetahui bahkan ada yang sama sekali tidak mengerti materi teknis tersebut. Pengetahuan akan profil peserta ini memudahkan penulis ketika mengajar yaitu dengan memahami perkembangan peserta diklat selama ini. Maka penulis akan banyak menyampaikan konsep di awal materi untuk menyesuaikan dengan kondisi peserta yang masih pemula. Atau disaat yang lain, penulis akan banyak latihan dan sharing untuk peserta yang sudah berpengalaman dan mengikuti diklat sebagai bentuk penyegaran kepada mereka.
2.    Pemahaman cara belajar peserta diklat
            belajar mengajar keberadaan widyaiswara sangat diperlukan untuk membantu peserta diklat agar mau dan mampu belajar dengan sebaik-baiknya. Oleh karena itu, merupakan hal yang esensial bagi widyaiswara untuk memahami cara dan tahapan belajar yang terjadi pada peserta diklatnya. Pemahaman ini mencakup urgensi belajar, teori belajar, hubungan belajar dengan memori dan pengetahuan serta fase yang dilalui dalam peristiwa belajar. Selain juga pendekatan belajar, kesulitan belajar dan cara mengatasinya.
3.    Pemahaman dalam proses belajar mengajar
Hal yang perlu diperhatikan oleh widyaiswara dalam dikjartih adalah menyampaikan materi pelajaran, melatih ketrampilan, menanamkan nilai-nilai moral yang terkandung dalam materi pelajaran tersebut. Untuk itu widyaiswara harus mampu membangkitkan gairah dan minat belajar. Disinilah pentingnya pemahaman mengenai model, metode dan strategi mengajar yang sesuai dengan siatuasi dan kondisi peserta diklat.
Sebelum memulai penyampaian materi, penulis biasanya menyampaikan pertanyaan bagaimana perasaan peserta pada saat diklat? Biasanya jawaban yang diberikan peserta beragam. Pertanyaan di awal ini bertujuan untuk membangun kedekatan dengan peserta. Jika di awal pengajar dan peserta sudah terjalin hubungan yang baik, maka penulis yakin proses pembelajaran berikutnya akan mudah dan menyenangkan.

Ketika peserta berbagi pengalaman dan perasaan mereka, pengajar sebagai fasilitator mendengarkan dengan penuh perhatian dan tidak mempertanyakan atau membalas perasaan yang diungkapkan. Selain itu pengajar juga harus mengetahui model, strategi dan metode mengajar yang tepat dihubungkan dengan materi pembelajaran. Penulis biasanya menggunakan metode yang berbeda untuk satu materi tertentu.
Misalnya menggabungkan antara metode ceramah, kartu, teknik jigsaw, simulasi dan bermain peran. Pemahaman mengenai teknik dan metode pembelajaran ini hal yang niscaya agar proses pembelajaran variatif dan tidak membosankan.

4.    Menjadi pengambil keputusan
Widyaiswara adalah manajer di kelas. Dia yang harus merencanakan, melaksanakan dan mengevaluasi pembelajaran termasuk membuat keputusan untuk mendinamisasikan kelas agar proses belajar mengajar berlangsung secara efektif dan efisien dengan interaksi belajar mengajar yang lancar dan menyenangkan.
Psikologi pendidikan berusaha untuk mewujudkan tindakan psikologis yang tepat dalam interaksi antar setiap faktor pendidikan. Pengetahuan psikologis tentang peserta didik menjadi hal yang sangat penting dalam pendidikan. Karena itu, pengetahuan tentang psikologi pendidikan seharusnya menjadi kebutuhan bagi para pengajar, bahkan bagi tiap orang yang menyadari dirinya sebagai pendidik.

Proses belajar mengajar harus disesuaikan dengan prinsip psikologi antara lain:
a.    Materi diberikan mulai dari bahan yang sederhana kepada bahan yang lebih kompleks;
b.    Materi diberikan dari hal yang konkret kepada hal yang lebih abstrak;
c.    Materi diberikan dari hal yang umum kepada hal yang khusus;
d.    Meteri diberikan dari hal yang diketahui kepada yang belum diketahui;
e.    Materi diberikan dari proses induksi ke proses deduksi atau sebaliknya (Tabrani : 90)

ARTIKEL 3  ( PSIKOLOGI PENDIDIKAN )
Aliran-Aliran  psikologi pendidikan
·         Nativisme
Aliran ini berpandangan bahwa perkembangan individu ditentukan oleh faktor bawaan sejak lahir. Faktor lingkungan kurang berpengaruh terhadap pendidikan dan perkembangan anak. Oleh karena itu, hasil pendidikan ditentukan oleh bakat yang dibawa sejak lahir. Dengan demikian, menurut aliran ini, keberhasilan belajar ditentukan oleh individu itu sendiri. Nativisme berpendapat, jika anak memiliki bakat jahat dari lahir, ia akan menjadi jahat, dan sebaliknya jika anak memiliki bakat baik, ia akan menjadi baik. Pendidikan anak yang tidak sesuai dengan bakat yang dibawa tidak akan berguna bagi perkembangan anak itu sendiri.

·         Naturalisme
Naturalisme mempunyai pandangan bahwa setiap anak yang lahir di dunia mempunyai pembawaan baik, namun pembawaan tersebut akan menjadi rusak karena pengaruh lingkungan, sehingga aliran Naturalisme sering disebut Negativisme.

·         Empirisisme
anak yang lahir ke dunia seperti kertas putih yang bersih. Kertas putih akan mempunyai corak dan tulisan yang digores oleh lingkungan. Faktor bawaan dari orangtua (faktor keturunan) tidak dipentingkan. Pengalaman diperoleh anak melalui hubungan dengan lingkungan (sosial, alam, dan budaya). Pengaruh empiris yang diperoleh dari lingkungan berpengaruh besar terhadap perkembangan anak. Menurut aliran ini, pendidik sebagai faktor luar memegang peranan sangat penting, sebab pendidik menyediakan lingkungan pendidikan bagi anak, dan anak akan menerima pendidikan sebagai pengalaman. Pengalaman tersebut akan membentuk tingkah laku, sikap, serta watak anak sesuai dengan tujuan pendidikan yang diharapkan.
  Misalnya: Suatu keluarga yang kaya raya ingin memaksa anaknya menjadi pelukis. Segala alat diberikan dan pendidik ahli didatangkan. Akan tetapi gagal, karena bakat melukis pada anak itu tidak ada. Akibatnya dalam diri anak terjadi konflik, pendidikan mengalami kesukaran dan hasilnya tidak optimal.

·         Interaksionisme
Manusia lahir di dunia ini telah memiliki bakat baik dan buruk, sedangkan perkembangan manusia selanjutnya akan dipengaruhi oleh lingkungan. Jadi, faktor pembawaan dan lingkungan sama-sama berperan penting. Manusia yang mempunyai pembawaan baik dan didukung oleh lingkungan pendidikan yang baik akan menjadi semakin baik. Sedangkan bakat yang dibawa sejak lahir tidak akan berkembang dengan baik tanpa dukungan lingkungan yang sesuai bagi perkembangan bakat itu sendiri. Sebaliknya, lingkungan yang baik tidak dapat menghasilkan perkembangan anak secara optimal jika tidak didukung oleh bakat baik yang dibawa anak. Dengan demikian, menganggap bahwa mendidik sangat bergantung dan sangat perlu pada faktor pembawaan atau bakat dan lingkungan.
·         Mengapa manusia perlu dididik.
 Menurut John Locke (1632-1704) mengajarkan bahwa perkembangan pribadi ditentukan oleh faktor-faktor lingkungan, terutama pendidikan.yang berkesimpulan bahwa tiap individu lahir sebagai kertas putih, dan lingkungan itulah yang “menulisi” kertas putih itu. Maka Manusia perlu dididik karena manusia ditentukan oleh lingkungannya yang mempengaruhi manusia itu sendiri, sejak ia lahir sampai ke liang lahat. Maka lingkungan akan sangat berpengaruh terhadap proses pendidikan anak.
·         Mengapa pendidik harus berwibawa.
Sudah seharusnya setiap orang mengakui bahwa dirinya adalah seorang guru/pendidik, yang harus memiliki jiwa pendidik yang mendarah daging. Artinya, nilai-nilai pendidikan tidak sekadar dihafal secara teoritis, tetapi telah menjadi bagian dari perilaku dirinya, diantaranya kemampuan mengelola pembelajaran atau mendidik peserta didik yang dapat mengaktualisasikan potensi yang dimilikinya. Pendidik sering dianggap sebagai sosok yang memiliki kepribadian ideal. Oleh karena itu, pribadi pendidik sering dianggap sebagai model atau panutan (yang harus digugu dan ditiru). Di antaranya kepribadian pendidik yang mantap, stabil, dewasa, arif, dan berwibawa, menjadi teladan bagi peserta didik, berakhlak mulia, dan bersikap demokratis dan terbuka terhadap pembaruan dan kritik.

·         Mengapa keluarga disebut lingkungan yang pertama dan utama.
Keluarga merupakan lembaga pendidikan tertua, bersifat informal, yang pertama dan utama dialamai oleh anak serta lembaga pendidikan yang bersifat kodrati, keluarga/orang tua bertanggung jawab memelihara, merawat, melindungi, dan mendidik anak agar tumbuh dan berkembang dengan baik. Disinilah proses pendidikan berawal, keluarga/orang tua adalah guru pertama dan utama bagi anak. Orang tua adalah guru agama, bahasa dan sosial pertama bagi anak, kenapa demikian? Karena orang tua adalah orang yang pertama kali mengajarkan anak berbahasa dengan mengajari anak mengucapkan kata ayah, ibu, nenek, kakek dan anggota keluarga lainnya. Orang tua atau keluarga adalah orang yang pertama mengajarkan anak bersosial dengan lingkungan sekitarnya dan mampu mengarahkan, membimbing dan mengembangkan potensi anak secara maksimal pada tahun-tahun pertama kelahiran anak dimana anak belum disentuh oleh lingkungan lain, dalam artian anak masih suci.

·         Siapakah sebenarnya yang harus bertanggung jawab terhadap pendidikan anak dikeluarga
Orang tua yang bertanggung jawab terhadap pendidikan anak dikeluarga, karena orang tua sebagai Pendidik dalam keluarga yang berfungsi Sebagai pengalaman pertama masa kanak-kanak, Menjamin kehidupan emosional anak, Menanamkan dasar pendidikan moral, Memberikan dasar pendidikan sosial-agama dan budaya, memelihara, merawat, melindungi, dan mendidik anak agar tumbuh dan berkembang dengan baik.


BAB 3
PEMBAHASAN
Pada artikel Pengertian dan Objek Psikologi Pembelajaran saya setuju mengenai Psikologi pembelajaran  yaitu psikologi pembelajaran adalah cabang psikologi secara khusus mengkaji berbagai perilaku individu dalam kaitannya dengan pendidikan, tujuannya untuk menemukan fakta, generalisasi, dan teori psikologis yang berkaitan dengan pendidikan untuk digunakan dalam upaya melaksanakan proses pendidikan yang efektif. Dan objek psikologi pembelajaran adalah pendidik (guru) dan peserta didik (murid). Yang dimana peranan psikologi yaitu : memahami siswa sebagai pelajar, memahami prinsip dan teori pembelajaran, memilih metode-metode pengajaran, menetapkan tujuan pembelajaran, menciptakan situasi pembelajaran yang kondusif, memilih dan menetapkan isi pengajaran, membantu siswa yang mendapat kesulitan dalam pembelajaran, memilih alat bantu pengajaran, menilai hasil pembelajaran, memaham kepribadian dan profesi guru, membimbing kepribadian siswa.
Pada Artikel Pentingnya Psikologi Pendidikan saya setuju karena Psikologi pendidikan itu membaha bagaimana belajar, hasil belajar dan situasi belajar. Kelas adalah sebuah lingkungan yang menjadi tempat interaksi antar peserta diklat, antara peserta diklat dengan widyaiswara. Proses interaksi ini harus digunakan sebagai dasar dalam mempertimbangkan perlakuan seperti apa yang akan diberikan kepada peserta diklat. Perlakuan yang responsif ini diberikan agar secara psikologis peserta diklat terus bergairah, antusias dan senang melakukan kegiatan serta terlibat aktif dalam proses pembelajaran. Agar bisa mendapatkan situasi yang “meriah” seperti diatas, widyaiswara harus memahami konsep psikologi pendidikan agar dapat melaksanakan tugasnya secara profesional.
Pada Artikel Aliran-Aliran  psikologi pendidikan saya setuju dengan aliran Nativisme yang dimana Aliran ini berpandangan bahwa perkembangan individu ditentukan oleh faktor bawaan sejak lahir. Faktor lingkungan kurang berpengaruh terhadap pendidikan dan perkembangan anak. Oleh karena itu, hasil pendidikan ditentukan oleh bakat yang dibawa sejak lahir. Dengan demikian, menurut aliran ini, keberhasilan belajar ditentukan oleh individu itu sendiri. Nativisme berpendapat, jika anak memiliki bakat jahat dari lahir, ia akan menjadi jahat, dan sebaliknya jika anak memiliki bakat baik, ia akan menjadi baik. Pendidikan anak yang tidak sesuai dengan bakat yang dibawa tidak akan berguna bagi perkembangan anak itu sendiri.


BAB 4
KESIMPULAN
      Psikologi secara etimologi berasal dari dua suku kata yaitu psik (jiwa) dan logos (ilmu). Atau psikologi disebut juga dengan ilmu jiwa. Sedangkan psikologi secara terminologi adalah suatu ilmu yang menyelidiki serta mempelajari sikap, tingkah laku atau aktivitas-aktivitas di mana sikap, tingkah laku, atau aktivitas-aktivitas itu sebagai manifestasi hidup kejiwaan. Jadi, objek psikologi adalah jiwa.
Awal mula munculnya psikologi pembelajaran berawal dari tokoh pertama, William James (1842-1910) memberikan serangkaian kuliah bertajuk “Talks to Teachers”. Dalam kuliah ini ia mendiskusikan aplikasi psikologi untuk mendidik anak. Ia menegaskan pentingnya mempelajari proses belajar dan mengajar di kelas guna meningkatkan mutu pendidikan. Salah satu rekomendasinya adalah mulai mengajar pada titik yang sedikit lebih tinggi di atas tingkat pengetahuan dan pemahaman anak dengan tujuan untuk memperluas cakrawala pemikiran anak.
Psikologi pendidikan adalah studi yang sistematis terhadap proses dan faktor-faktor yang berhubungan dengan pendidikan. Sedangkan pendidikan adalah proses pertumbuhan yang berlangsung melalui tindakan-tindakan belajar. Adanya kaitan yang sangat kuat antara psikologi pendidikan dengan tindakan belajar. Karena itu, tidak mengherankan apabila beberapa ahli psikologi pendidikan menyebutkan bahwa lapangan utama studi psikologi pendidikan adalah soal belajar. Dengan kata lain, psikologi pendidikan memusatkan perhatian pada persoalan-persoalan yang berkenaan dengan proses dan faktor-faktor yang berhubungan dengan tindakan belajar.