Kamis, 31 Maret 2016



BAB 1
PENDAHULUAN
A.    LATAR BELAKANG
Psikologi berasal dari bahasa Yunani “psyche” yang berarti jiwa dan “logos” yang berarti ilmu. Jadi secara etimologis, psikologi berarti ilmu jiwa. Pada awalnya psikologi digunakan oleh para filosof untuk memahami akal pikiran dan tingkah laku makhluk hidup. Namun selanjutnya psikologi digunakan secara meluas untuk mempelajari banyak bidang. Pada akhirnya psikologi banyak digunakan untuk memahami tingkah laku manusia, melalui penyelidikan tentang mengapa, kapan dan dengan cara bagaimana tingkah laku seseorang itu muncul.
Muhibbin Syah menyimpulkan bahwa psikologi adalah ilmu pengetahuan yang menyelidiki dan membahas tingkah laku terbuka dan tertutup pada manusia, baik selaku individu maupun kelompok, dalam hubungannya dengan lingkungan.
Pendidikan berasal dari kata “didik”. Mendidik berarti memelihara dan memberikan latihan, yang memerlukan adanya ajaran terutama mengenai akhlak dan kecerdasan.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia pendidikan adalah proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan.
Psikologi Pendidikan
Barlow mendefinisikan psikologi pendidikan sebagai suatu pengetahuan berdasarkan riset psikologis yang menyediakan serangkaian sumber-sumber untuk membantu melaksanakan fungsi dalam proses belajar mengajar secara lebih efektif. Sedangkan secara istilah psikologi pendidikan adalah psikologi yang khusus menguraikan kegiatan-kegiatan atau aktivitas-aktivitas manusia dalam hubungannya dengan situasi pendidikan, misalnya bagaimana cara menarik perhatian agar pelajaran dapat dengan mudah diterima, bagaimana cara belajar dan sebagainya.
Maka psikologi pendidikan adalah ilmu yang mempelajari  tentang perilaku manusia di dalam dunia pendidikan yang meliputi  studi sistematis tentang proses-proses dan faktor-faktor yang berhubungan dengan pendidikan manusia yang tujuannya untuk mengembangkan dan meningkatkan koefisien di dalam pendidikan. Psikologi pendidikan pada dasarnya berorientasi pada proses kegiatan orang-orang yang belajar dan mengajar termasuk pendekatan, strategi, hasil, metode belajar mengajar yang digunakan baik pembelajar maupun pengajar. Pada akhirnya psikologi pendidikan dapat digunakan sebagai pedoman praktis disamping sebagai kajian teoritis karena psikologi pendidikan pada dasarnya merupakan salah satu disiplin psikologi yang meyelidiki masalah-masalah psikologi yang terjadi dalam dunia pendidikan.
Oleh karena itu objek kajian psikologi pendidikan, selain teori-teori psikologi pendidikan sebagai ilmu, tetapi lebih condong pada aspek psikologis peserta didik, khususnya ketika mereka terlibat dalam proses pembelajaran.
Menurut Glover dan Ronning objek kajian psikologi pendidikan mencakup topik-topik tentang pertumbuhan dan perkembangan peserta didik, hereditas dan lingkungan, perbedaan individual peserta didik, potensi dan karakteristik tingkah laku peserta didik, pengukuran proses dan hasil pendidikan dan pembelajaran, kesehatan mental, motivasi dan minat, serta disiplin lain yang relevan.
Psikologi pendidikan adalah studi yang sistematis terhadap proses dan faktor-faktor yang berhubungan dengan pendidikan. Sedangkan pendidikan adalah proses pertumbuhan yang berlangsung melalui tindakan-tindakan belajar. Adanya kaitan yang sangat kuat antara psikologi pendidikan dengan tindakan belajar. Karena itu, tidak mengherankan apabila beberapa ahli psikologi pendidikan menyebutkan bahwa lapangan utama studi psikologi pendidikan adalah soal belajar. Dengan kata lain, psikologi pendidikan memusatkan perhatian pada persoalan-persoalan yang berkenaan dengan proses dan faktor-faktor yang berhubungan dengan tindakan belajar.
Untuk memperjelas pertimbangan-pertimbangan psikologi pendidikan  yang melibatkan peserta didik ,berikut ini diketengahkan uraian tentang pengertian epsikologi pendidikan  dan ruang lingkup pskikologi pendidikan,perkembangan psikologi pendidikan,aliran-aliran psikologi pendidikan,metode-metode psikologi pendidikan dan hubungan psikologi pendidikan dengan bimbingan  konseling.




















BAB 2
RINGKASAN MATERI
ARTIKEL 1 (PENGERTIAN DAN OBJEK  PSIKOLOGI PEMBELAJARAN )
Pengertian dan Objek Psikologi Pembelajaran
      Psikologi secara etimologi berasal dari dua suku kata yaitu psik (jiwa) dan logos (ilmu). Atau psikologi disebut juga dengan ilmu jiwa. Sedangkan psikologi secara terminologi adalah suatu ilmu yang menyelidiki serta mempelajari sikap, tingkah laku atau aktivitas-aktivitas di mana sikap, tingkah laku, atau aktivitas-aktivitas itu sebagai manifestasi hidup kejiwaan. Jadi, objek psikologi adalah jiwa.
      Sedangkan, psikologi pembelajaran secara etimologi berasal dari dua kata yaitu psikologi dan pembelajaran. Pengertian psikologi telah dibahas sebelumnya, dan pengertian pembelajaran adalah suatu proses yang dilakukan oleh individu untuk memperoleh suatu perubahan perilaku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil dari pengalaman individu itu sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya.
Beberapa prinsip yang menjadi landasan pengertian tersebut ialah :
·         Pembelajaran sebagai suatu usaha memperoleh perubahan perilaku. Prinsip ini bermakna bahwa prosees pembelajaran itu ialah adanya perubahan perilaku dalam diri individu.
·         Hasil pembelajarn ditandai dengan perubahan perilaku secara keseluruhan.
·         Pembelajaran merupakan suatu proses. Prinsip ini mengandung makna bahwa pembelajaran merupakan suatu aktifitas yang berkesinambungan.
·         Proses pembelajaran terjadi karena adanya sesuatu yang mendorong dan ada suatu tujuan yang ingin dicapai.
·         Pembelajaran merupakan suatu pengalaman.
     
Jadi, psikologi pembelajaran adalah cabang psikologi secara khusus mengkaji berbagai perilaku individu dalam kaitannya dengan pendidikan, tujuannya untuk menemukan fakta, generalisasi, dan teori psikologis yang berkaitan dengan pendidikan untuk digunakan dalam upaya melaksanakan proses pendidikan yang efektif. Dan objek psikologi pembelajaran adalah pendidik (guru) dan peserta didik (murid).
·         Sejarah Munculnya Psikologi Pembelajaran
Awal mula munculnya psikologi pembelajaran berawal dari tokoh pertama, William James (1842-1910) memberikan serangkaian kuliah bertajuk “Talks to Teachers”. Dalam kuliah ini ia mendiskusikan aplikasi psikologi untuk mendidik anak. Ia menegaskan pentingnya mempelajari proses belajar dan mengajar di kelas guna meningkatkan mutu pendidikan. Salah satu rekomendasinya adalah mulai mengajar pada titik yang sedikit lebih tinggi di atas tingkat pengetahuan dan pemahaman anak dengan tujuan untuk memperluas cakrawala pemikiran anak.
Tokoh kedua, John Dewey (1859-1952) merupakan motor penggerak pengaplikasian psikologi dalam tingkat praktis, sehingga kemudian ia membangun laboratorium psikologi pendidikan pertama di Universitas Columbia Amerika Serikat (1894).
Beberapa kajian yang penting darinya adalah :
1.      Kita mendapatkan pandangan tentang anak sebagai pembelajar aktif (active learning), dimana anak bukan pasif duduk diam menerima pelajaran tetapi juga aktif agar proses belajar anak akan lebih baik.
2.      Pendidikan harus difokuskan pada anak secara keseluruhan dan kemampuan anak untuk beradaptasi dengan lingkungannya. Dewey percaya bahwa anak-anak seharusnya tidak mendapatkan pelajaran akademik saja, tetapi juga harus mempelajari cara untuk berpikir dan beradaptasi dengan lingkungan luar sekolah, seperti mampu untuk memecahkan masalah dengan baik.
3.      Dia juga berpendapat bahwa semua anak berhak mendapatkan pendidikan yang selayaknya, mulai dari kaya dan miskin, laki-laki dan perempuan, semua golongan etnis, sampai pada semua lapisan ekonomi-sosial.

Tokoh ketiga, E.L Thorndike (1874-1949) berpendapat bahwa salah satu tugas pendidikan di sekolah yang paling penting adalah menanamkan keahlian penalaran anak. Thorndike sangat ahli dalam melakukan studi belajar dan mengajar secara ilmiah. Thorndike mengajukan gagasan bahwa psikologi pendidikan harus punya basis ilmiah dan harus berfokus pada pengukuran.

ARTIKEL 2 (PENTINGNYA PSIKOLOGI PENDIDIKAN DALAM PROSES BELAJAR MENGAJAR )
Pentingnya Psikologi Pendidikan
            Secara garis besar banyak ahli membatasi objek kajian psikologi pendidikan menjadi tiga macam:
1.    Mengenai “belajar”, yang meliputi teori-teori, prinsip-prinsip, dan ciri-ciri khas perilaku belajar peserta didik, dan sebagainya;
2.    Mengenai “proses belajar”, yakni tahapan perbuatan dan peristiwa yang terjadi dalam kegiatan belajar peserta didik;
3.    Mengenai “situasi belajar”, yakni suasana dan keadaan lingkungan, baik bersifat fisik maupun nonfisik yang berhubungan dengan kegiatan belajar peserta didik.
Widyaiswara adalah PNS yang diangkat sebagai pejabat fungsional dengan tugas, tanggung jawab, wewenang, dan hak untuk melakukan kegiatan dikjartih PNS, evaluasi dan pengembangan diklat pada lembaga diklat pemerintah. Sebagai tenaga dikjartih, dalam melakukan kegiatannya widyaiswara harus menyesuaikan proses belajar mengajar dengan situasi dan kondisi peserta diklat. Hal ini bertujuan agar pembelajaran dapat tercapai secara efektif.
Kelas adalah sebuah lingkungan yang menjadi tempat interaksi antar peserta diklat, antara peserta diklat dengan widyaiswara. Proses interaksi ini harus digunakan sebagai dasar dalam mempertimbangkan perlakuan seperti apa yang akan diberikan kepada peserta diklat. Perlakuan yang responsif ini diberikan agar secara psikologis peserta diklat terus bergairah, antusias dan senang melakukan kegiatan serta terlibat aktif dalam proses pembelajaran. Agar bisa mendapatkan situasi yang “meriah” seperti diatas, widyaiswara harus memahami konsep psikologi pendidikan agar dapat melaksanakan tugasnya secara profesional.

Manfaat yang dapat diperoleh pengajar yang memahami psikologi pendidikan antara lain :
1.    Pemahaman proses perkembangan peserta didik yang dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam pelaksanaan proses belajar mengajar. Hal ini penting agar dapat dilakukan penyesuaian dengan tahap perkembangan ranah cipta peserta diklat sehingga mereka lebih mudah mencerna dan memahami materi yang disampaikan. Contoh nyata adalah ketika penulis berada di kelas diklat PBJ. Pesera berasal dari latar belakang yang beragam. Pengalaman di kantor selama melaksanakan pekerjaan sangat beragam. Di awal penulis melakukan profiling peserta untuk mengetahui sejauh mana interaksi mereka dengan pekerjaan yang berhubungan dengan teknis diklat. Biasanya kondisi peserta sangat beragam. Ada yang sudah berpengalaman dan lama bekerja di bagian tersebut. Ada yang sekedar mengetahui bahkan ada yang sama sekali tidak mengerti materi teknis tersebut. Pengetahuan akan profil peserta ini memudahkan penulis ketika mengajar yaitu dengan memahami perkembangan peserta diklat selama ini. Maka penulis akan banyak menyampaikan konsep di awal materi untuk menyesuaikan dengan kondisi peserta yang masih pemula. Atau disaat yang lain, penulis akan banyak latihan dan sharing untuk peserta yang sudah berpengalaman dan mengikuti diklat sebagai bentuk penyegaran kepada mereka.
2.    Pemahaman cara belajar peserta diklat
            belajar mengajar keberadaan widyaiswara sangat diperlukan untuk membantu peserta diklat agar mau dan mampu belajar dengan sebaik-baiknya. Oleh karena itu, merupakan hal yang esensial bagi widyaiswara untuk memahami cara dan tahapan belajar yang terjadi pada peserta diklatnya. Pemahaman ini mencakup urgensi belajar, teori belajar, hubungan belajar dengan memori dan pengetahuan serta fase yang dilalui dalam peristiwa belajar. Selain juga pendekatan belajar, kesulitan belajar dan cara mengatasinya.
3.    Pemahaman dalam proses belajar mengajar
Hal yang perlu diperhatikan oleh widyaiswara dalam dikjartih adalah menyampaikan materi pelajaran, melatih ketrampilan, menanamkan nilai-nilai moral yang terkandung dalam materi pelajaran tersebut. Untuk itu widyaiswara harus mampu membangkitkan gairah dan minat belajar. Disinilah pentingnya pemahaman mengenai model, metode dan strategi mengajar yang sesuai dengan siatuasi dan kondisi peserta diklat.
Sebelum memulai penyampaian materi, penulis biasanya menyampaikan pertanyaan bagaimana perasaan peserta pada saat diklat? Biasanya jawaban yang diberikan peserta beragam. Pertanyaan di awal ini bertujuan untuk membangun kedekatan dengan peserta. Jika di awal pengajar dan peserta sudah terjalin hubungan yang baik, maka penulis yakin proses pembelajaran berikutnya akan mudah dan menyenangkan.

Ketika peserta berbagi pengalaman dan perasaan mereka, pengajar sebagai fasilitator mendengarkan dengan penuh perhatian dan tidak mempertanyakan atau membalas perasaan yang diungkapkan. Selain itu pengajar juga harus mengetahui model, strategi dan metode mengajar yang tepat dihubungkan dengan materi pembelajaran. Penulis biasanya menggunakan metode yang berbeda untuk satu materi tertentu.
Misalnya menggabungkan antara metode ceramah, kartu, teknik jigsaw, simulasi dan bermain peran. Pemahaman mengenai teknik dan metode pembelajaran ini hal yang niscaya agar proses pembelajaran variatif dan tidak membosankan.

4.    Menjadi pengambil keputusan
Widyaiswara adalah manajer di kelas. Dia yang harus merencanakan, melaksanakan dan mengevaluasi pembelajaran termasuk membuat keputusan untuk mendinamisasikan kelas agar proses belajar mengajar berlangsung secara efektif dan efisien dengan interaksi belajar mengajar yang lancar dan menyenangkan.
Psikologi pendidikan berusaha untuk mewujudkan tindakan psikologis yang tepat dalam interaksi antar setiap faktor pendidikan. Pengetahuan psikologis tentang peserta didik menjadi hal yang sangat penting dalam pendidikan. Karena itu, pengetahuan tentang psikologi pendidikan seharusnya menjadi kebutuhan bagi para pengajar, bahkan bagi tiap orang yang menyadari dirinya sebagai pendidik.

Proses belajar mengajar harus disesuaikan dengan prinsip psikologi antara lain:
a.    Materi diberikan mulai dari bahan yang sederhana kepada bahan yang lebih kompleks;
b.    Materi diberikan dari hal yang konkret kepada hal yang lebih abstrak;
c.    Materi diberikan dari hal yang umum kepada hal yang khusus;
d.    Meteri diberikan dari hal yang diketahui kepada yang belum diketahui;
e.    Materi diberikan dari proses induksi ke proses deduksi atau sebaliknya (Tabrani : 90)

ARTIKEL 3  ( PSIKOLOGI PENDIDIKAN )
Aliran-Aliran  psikologi pendidikan
·         Nativisme
Aliran ini berpandangan bahwa perkembangan individu ditentukan oleh faktor bawaan sejak lahir. Faktor lingkungan kurang berpengaruh terhadap pendidikan dan perkembangan anak. Oleh karena itu, hasil pendidikan ditentukan oleh bakat yang dibawa sejak lahir. Dengan demikian, menurut aliran ini, keberhasilan belajar ditentukan oleh individu itu sendiri. Nativisme berpendapat, jika anak memiliki bakat jahat dari lahir, ia akan menjadi jahat, dan sebaliknya jika anak memiliki bakat baik, ia akan menjadi baik. Pendidikan anak yang tidak sesuai dengan bakat yang dibawa tidak akan berguna bagi perkembangan anak itu sendiri.

·         Naturalisme
Naturalisme mempunyai pandangan bahwa setiap anak yang lahir di dunia mempunyai pembawaan baik, namun pembawaan tersebut akan menjadi rusak karena pengaruh lingkungan, sehingga aliran Naturalisme sering disebut Negativisme.

·         Empirisisme
anak yang lahir ke dunia seperti kertas putih yang bersih. Kertas putih akan mempunyai corak dan tulisan yang digores oleh lingkungan. Faktor bawaan dari orangtua (faktor keturunan) tidak dipentingkan. Pengalaman diperoleh anak melalui hubungan dengan lingkungan (sosial, alam, dan budaya). Pengaruh empiris yang diperoleh dari lingkungan berpengaruh besar terhadap perkembangan anak. Menurut aliran ini, pendidik sebagai faktor luar memegang peranan sangat penting, sebab pendidik menyediakan lingkungan pendidikan bagi anak, dan anak akan menerima pendidikan sebagai pengalaman. Pengalaman tersebut akan membentuk tingkah laku, sikap, serta watak anak sesuai dengan tujuan pendidikan yang diharapkan.
  Misalnya: Suatu keluarga yang kaya raya ingin memaksa anaknya menjadi pelukis. Segala alat diberikan dan pendidik ahli didatangkan. Akan tetapi gagal, karena bakat melukis pada anak itu tidak ada. Akibatnya dalam diri anak terjadi konflik, pendidikan mengalami kesukaran dan hasilnya tidak optimal.

·         Interaksionisme
Manusia lahir di dunia ini telah memiliki bakat baik dan buruk, sedangkan perkembangan manusia selanjutnya akan dipengaruhi oleh lingkungan. Jadi, faktor pembawaan dan lingkungan sama-sama berperan penting. Manusia yang mempunyai pembawaan baik dan didukung oleh lingkungan pendidikan yang baik akan menjadi semakin baik. Sedangkan bakat yang dibawa sejak lahir tidak akan berkembang dengan baik tanpa dukungan lingkungan yang sesuai bagi perkembangan bakat itu sendiri. Sebaliknya, lingkungan yang baik tidak dapat menghasilkan perkembangan anak secara optimal jika tidak didukung oleh bakat baik yang dibawa anak. Dengan demikian, menganggap bahwa mendidik sangat bergantung dan sangat perlu pada faktor pembawaan atau bakat dan lingkungan.
·         Mengapa manusia perlu dididik.
 Menurut John Locke (1632-1704) mengajarkan bahwa perkembangan pribadi ditentukan oleh faktor-faktor lingkungan, terutama pendidikan.yang berkesimpulan bahwa tiap individu lahir sebagai kertas putih, dan lingkungan itulah yang “menulisi” kertas putih itu. Maka Manusia perlu dididik karena manusia ditentukan oleh lingkungannya yang mempengaruhi manusia itu sendiri, sejak ia lahir sampai ke liang lahat. Maka lingkungan akan sangat berpengaruh terhadap proses pendidikan anak.
·         Mengapa pendidik harus berwibawa.
Sudah seharusnya setiap orang mengakui bahwa dirinya adalah seorang guru/pendidik, yang harus memiliki jiwa pendidik yang mendarah daging. Artinya, nilai-nilai pendidikan tidak sekadar dihafal secara teoritis, tetapi telah menjadi bagian dari perilaku dirinya, diantaranya kemampuan mengelola pembelajaran atau mendidik peserta didik yang dapat mengaktualisasikan potensi yang dimilikinya. Pendidik sering dianggap sebagai sosok yang memiliki kepribadian ideal. Oleh karena itu, pribadi pendidik sering dianggap sebagai model atau panutan (yang harus digugu dan ditiru). Di antaranya kepribadian pendidik yang mantap, stabil, dewasa, arif, dan berwibawa, menjadi teladan bagi peserta didik, berakhlak mulia, dan bersikap demokratis dan terbuka terhadap pembaruan dan kritik.

·         Mengapa keluarga disebut lingkungan yang pertama dan utama.
Keluarga merupakan lembaga pendidikan tertua, bersifat informal, yang pertama dan utama dialamai oleh anak serta lembaga pendidikan yang bersifat kodrati, keluarga/orang tua bertanggung jawab memelihara, merawat, melindungi, dan mendidik anak agar tumbuh dan berkembang dengan baik. Disinilah proses pendidikan berawal, keluarga/orang tua adalah guru pertama dan utama bagi anak. Orang tua adalah guru agama, bahasa dan sosial pertama bagi anak, kenapa demikian? Karena orang tua adalah orang yang pertama kali mengajarkan anak berbahasa dengan mengajari anak mengucapkan kata ayah, ibu, nenek, kakek dan anggota keluarga lainnya. Orang tua atau keluarga adalah orang yang pertama mengajarkan anak bersosial dengan lingkungan sekitarnya dan mampu mengarahkan, membimbing dan mengembangkan potensi anak secara maksimal pada tahun-tahun pertama kelahiran anak dimana anak belum disentuh oleh lingkungan lain, dalam artian anak masih suci.

·         Siapakah sebenarnya yang harus bertanggung jawab terhadap pendidikan anak dikeluarga
Orang tua yang bertanggung jawab terhadap pendidikan anak dikeluarga, karena orang tua sebagai Pendidik dalam keluarga yang berfungsi Sebagai pengalaman pertama masa kanak-kanak, Menjamin kehidupan emosional anak, Menanamkan dasar pendidikan moral, Memberikan dasar pendidikan sosial-agama dan budaya, memelihara, merawat, melindungi, dan mendidik anak agar tumbuh dan berkembang dengan baik.


BAB 3
PEMBAHASAN
Pada artikel Pengertian dan Objek Psikologi Pembelajaran saya setuju mengenai Psikologi pembelajaran  yaitu psikologi pembelajaran adalah cabang psikologi secara khusus mengkaji berbagai perilaku individu dalam kaitannya dengan pendidikan, tujuannya untuk menemukan fakta, generalisasi, dan teori psikologis yang berkaitan dengan pendidikan untuk digunakan dalam upaya melaksanakan proses pendidikan yang efektif. Dan objek psikologi pembelajaran adalah pendidik (guru) dan peserta didik (murid). Yang dimana peranan psikologi yaitu : memahami siswa sebagai pelajar, memahami prinsip dan teori pembelajaran, memilih metode-metode pengajaran, menetapkan tujuan pembelajaran, menciptakan situasi pembelajaran yang kondusif, memilih dan menetapkan isi pengajaran, membantu siswa yang mendapat kesulitan dalam pembelajaran, memilih alat bantu pengajaran, menilai hasil pembelajaran, memaham kepribadian dan profesi guru, membimbing kepribadian siswa.
Pada Artikel Pentingnya Psikologi Pendidikan saya setuju karena Psikologi pendidikan itu membaha bagaimana belajar, hasil belajar dan situasi belajar. Kelas adalah sebuah lingkungan yang menjadi tempat interaksi antar peserta diklat, antara peserta diklat dengan widyaiswara. Proses interaksi ini harus digunakan sebagai dasar dalam mempertimbangkan perlakuan seperti apa yang akan diberikan kepada peserta diklat. Perlakuan yang responsif ini diberikan agar secara psikologis peserta diklat terus bergairah, antusias dan senang melakukan kegiatan serta terlibat aktif dalam proses pembelajaran. Agar bisa mendapatkan situasi yang “meriah” seperti diatas, widyaiswara harus memahami konsep psikologi pendidikan agar dapat melaksanakan tugasnya secara profesional.
Pada Artikel Aliran-Aliran  psikologi pendidikan saya setuju dengan aliran Nativisme yang dimana Aliran ini berpandangan bahwa perkembangan individu ditentukan oleh faktor bawaan sejak lahir. Faktor lingkungan kurang berpengaruh terhadap pendidikan dan perkembangan anak. Oleh karena itu, hasil pendidikan ditentukan oleh bakat yang dibawa sejak lahir. Dengan demikian, menurut aliran ini, keberhasilan belajar ditentukan oleh individu itu sendiri. Nativisme berpendapat, jika anak memiliki bakat jahat dari lahir, ia akan menjadi jahat, dan sebaliknya jika anak memiliki bakat baik, ia akan menjadi baik. Pendidikan anak yang tidak sesuai dengan bakat yang dibawa tidak akan berguna bagi perkembangan anak itu sendiri.


BAB 4
KESIMPULAN
      Psikologi secara etimologi berasal dari dua suku kata yaitu psik (jiwa) dan logos (ilmu). Atau psikologi disebut juga dengan ilmu jiwa. Sedangkan psikologi secara terminologi adalah suatu ilmu yang menyelidiki serta mempelajari sikap, tingkah laku atau aktivitas-aktivitas di mana sikap, tingkah laku, atau aktivitas-aktivitas itu sebagai manifestasi hidup kejiwaan. Jadi, objek psikologi adalah jiwa.
Awal mula munculnya psikologi pembelajaran berawal dari tokoh pertama, William James (1842-1910) memberikan serangkaian kuliah bertajuk “Talks to Teachers”. Dalam kuliah ini ia mendiskusikan aplikasi psikologi untuk mendidik anak. Ia menegaskan pentingnya mempelajari proses belajar dan mengajar di kelas guna meningkatkan mutu pendidikan. Salah satu rekomendasinya adalah mulai mengajar pada titik yang sedikit lebih tinggi di atas tingkat pengetahuan dan pemahaman anak dengan tujuan untuk memperluas cakrawala pemikiran anak.
Psikologi pendidikan adalah studi yang sistematis terhadap proses dan faktor-faktor yang berhubungan dengan pendidikan. Sedangkan pendidikan adalah proses pertumbuhan yang berlangsung melalui tindakan-tindakan belajar. Adanya kaitan yang sangat kuat antara psikologi pendidikan dengan tindakan belajar. Karena itu, tidak mengherankan apabila beberapa ahli psikologi pendidikan menyebutkan bahwa lapangan utama studi psikologi pendidikan adalah soal belajar. Dengan kata lain, psikologi pendidikan memusatkan perhatian pada persoalan-persoalan yang berkenaan dengan proses dan faktor-faktor yang berhubungan dengan tindakan belajar.

Rabu, 09 Maret 2016


summary 
mata kuliah : Belajar dan pembelajaran
pendidikan teknik elektronika FT UNM
BAB  1
POLA DASAR MENGAJAR DAN BELAJAR
A.    POLA DASAR MENGAJAR
Guru dan siswa merupaan komponen penting dalam sistem pembelajaran di sekolah. Tidak mungkin ada lembaga sekolah tanpa adanya guru dan siswa. Keduanya harus ada. Hal yang dimaksud dengan pola dasar mengajar dalam pembahasa ini adalah proses pelaksanna mengajar yang dilakukan guru dalam pengelolaan kelas yang menjadi tanggung jawabnya, yang dipengaruhi oleh motivasi dan pandangannya tentang konsep mengajar sehingga menjadi gaya dalam melaksanakan komunikasi dan interaksi belajar mengajar.
Ada 3 pola dasar yang dilakukan guru dalam pengelolaan pembelajaran, yakni pola terpisah, pola  terkait dan pola ketergantungan.

1.      POLA TERPISAH
Pola terpisah adalah pola yang menggambarkan ketiadaan hubungan antara peran yang dilakukan guru sebagai pengajar dengan peran siswa sebagai pembelajar.
Ada beberapa ciri dari pola mengajar terpisah ini :
Pertama guru menganggap mengajar adalah sekedar menyampaikan materi pelajaran.
Kedua tidak adanya kriteria yang jelas tentang keberhasilan guru mengajar. Ketiak jelasan ini di karenakan konsep mengajar yang hanya sekedar menyampaikan materi pelajaran, sehingga guru tidak merumuskan tujuan apa yang harus dicapai oleh siswa.

2.      POLA TERKAIT
Pola terkait adalah pola mengajar guru yang berupaya agar siswa memahami materi pelajaran sesuai  dengan yang disampaikannya. Pola ini merupakan pola yang banyak dilakukan oleh guru guru kita dewasa ini. Pada pola ini kerja sama antara guru dan siswa diarahkan pad penguasaan materi pelajaran yang disampaikan oleh guru.

3.      POLA KETERGANTUNGAN
Pola ketergantungan adalah pola mengajar yang ditandai oleh adanya kerja sama antara guru dan siswa untuk mencapai tujuan pembelajaran. Pola ini siswa belajar sesuai denga minat dan gaya belajarnya sendiri. Siswa tidak hanya dituntut untuk menelan apa yang disampaikan guru; akan tetapi juga mengunyah nya sebelum ditelan, sehingga terasa benar asam garamnya.
Pola ketergantungan ini memiliki karakteristik sebagai berikut :
a.       Siswa memiliki kesempatan untuk menentukan arah dan tujuan pembelajaran, sehingga mereka memahami tujuan pembelajaran yang dicapainya.
b.      Guru tidak menempatkan dirinya sebagai sumber utama dalam pembelajaran.
c.       Guru menempatkan siswa sebagai subjek belajar.
d.      Tujuan utama pembelajaran bukan hanya sekadar menguasai informasi akan tetapi kemampuan berfikir secara kritis dan analitis.

B.     PEMBELAJARAN SEBAGAI SUATU SISTEM
1.      Pentingnya pendekatan sistem dalam pembelajaran
Pendekatan sistem sebagai suatu pendekatan yang memulainya dari analisis setiap komponen yang membentuk sistem itu sendiri. Sistem dapat diartikan sebagai satu kesatuan komponen yang saling berkaitan , berinteraksi dan berinterelasi untuk mencapai tujuan.
2.      Komponen - komponen sistem pembelajaran
Belajar adalah proses perubahan tingkah laku. Perubahan tingkah laku berhubungan dengan perubbahan sistem saraf dan perubahan energi yang sulit dilihat dan diraba. Adapun komponen – komponen dalam sistem pembelajaran adalah ; proses, tujuan,isi/materi,metode,media,dan evaluasi.


3.      Faktor yang berpengaruh terhadap sistem pembelajaran
a.       Faktor  guru
Guru adalah komponen yang berpengaruh dalam suatu proses pembelajaran. Dalam proses pembelajaran guru bukanlah hanya berperan sebagai model atau teladan bagi siswa yang di ajarnya akan tetapi juga sebagai pengelola pembelajaran ( manager of learning ). Norman kirby ( 1981 ) menyatakan : one underlying emphasis should be noticeable: that the quality of the teacher is the essential, constant feature in the success of any educational system.

b.      Faktor siswa
Siswa adalah organisme yang unik yang berkembang sesuai dengan tahap perkembangannya. Perkembangan adalah perkembangan seluruh aspek kepribadiannya, akan tetapi tempo dan irama perkembangan masing – masing anak pada setiap aspek tidak selalu sama.
c.       Faktor sarana dan prasarana
Saranna adalah segala sesuatu yang mendukung secara langsung terhadap kelancaran proses pembelajaran terdapat beberapa keuntungan bagi sekolah yang memiliki kelengkapan sarana dan prasarana.
Pertama dapat menumbuhkan gairah dan motivasi guru mengajar
Kedua dapat memberikan berbagai pilihan pada siswa untuk belajar  
d.      Faktor lingkuungan
Dilihat dari dimensi lingkungan ada dua faktor yang dapat mempengaruhi proses pembelajaran,
Pertama faktor organisasi kelas, yang didalamnya yang meliputi jumlah siswa dalam satu kelas merupakan aspek penting yang dapat mempengaruhi proses pembelajaran.
Kedua faktro iklim sosial-psikolois secara internal adalah hubungan antara orang yang terlibat dalam lingkkungan sekolah , secara eksternal adalah keharmonisan hubungan antara pihak sekolah dengan dunia luar.

C.     HAKIKAT BELAJAR METODE DAN MEDIA PEMBELAJARAN
1.      Belajar sebagai proses menambah informasi
Belajar adalah untuk mendapatkan pengetahuan,pemahaman, atau penguasaan materi pelajaran melalui pengalaman.
2.      Belajar adalah proses perubahan perilaku yang terkontrol
Sekecil apapun perubahan perilaku pada dasarnya adalah hubungan stimuluus ( rangsangan dari luar ) dan respon dari dalam diri siswa.
3.      Belajar sebagai proses mental untuk memecahkan masalah

D.    KEDUDUKAN MEDIA DALAM SISTEM PEMBELAJARAN
Sistem adalah satu kesatuan komponen yang saling berhubungan untuk mencapai tujuan tertentu. Brown ( 1983 ) menjelaskan komponen-komponen yang harus menjadi perhatian guru dalam merancang sistem pembelajaran dikaitkan dengan pemanfaatanmedia pembelajaran
1.      Siswa
Siswa merupakan titik sentral dalam sistem pembelajaran sebab proses pembelajaran pada hakikatnya diarahkan untuk membelajarkan siswa agar dapat mencapai tujuan yang telah ditentukan
2.      Tujuan
Kompoonen ini merupakan komponen pengendali dalam sistem pembelajaran, sebab segala daya upaya siswa dan guru dalam proses pembelajaran pada dasarnya diarahkan untuk mencapai tujuan.
3.      Kondisi
Kondisi adalah berbagai pengalaman belajar yang dirancang agar siswa dapat mencapai tujuan khusus seperti yang telah dirumuskan.
4.      Sumber-sumber belajar
Sumber belajar berkaitan dengan segala sesuatu yang memungkinkan siswa dapat memperoleh pengalaman belajar, didalamnya meliputi lingkungan fisik seperti tempat belajar, bahan dan alat yang digunakan personil seperti guru dan lain lain.
5.      Hasil belajar
Hasil belajar berkaitan dengan pencapaian dalam memperoleh kemampuan sesuai dengan tujuan khusus yang direncanakan.

E.     JENIS – JENIS BELAJAR
1.      Belajar pengamatan
Belajar pengamatan adalah jenis belajar untuk memahami sesuatu melalui indra yang dimiliki. Pengamatan bisa dilakukan secara langsung dan tidak langsung. Pengamatan secara langsug dilakukan manakala siswa atau individu yang belajar berhadapan langsung dengann objek yang dipelajarinnya
2.      Belajar gerak
Belajar gerak adalah belajar untuk menguasai gerakan – gerakan tertentu atau melakukan sesuatu.
3.      Belajar menghafal
Belajar menghafal merupakan jenis belajar yang sering dilakukan siswa dewasa ini.
4.      Belajar memecahkan masalah
Dalam proses kehidupan manusia tidak pernah lepas dari yang namanya masalah. Semakin manusia dewasa maka masalah akan semakin kompleks. Masalah itu selamanya berhubungan dengan kepuasan. Artinya, manakala manusia berhasil memecahkan suatu masalah maka akan muncul rasa puasnya begitupun yang sebaliknya.
5.      Belajar berdasarkan emosi
Belajar dengan melibatkan emosi siswa di sekolah, seringkali terabaikan oleh guru. Belajar yang melibatkan emosi siswa dalam pembentukan kepribadian bukanlah merupakan tanggung jawab guru mata pelajaran tertentu, akan tetapi merupakan tanggung jawab setiap guru.














BAB 2
KONSEP DASAR MEDIA PEMBELAJARAN
A.    PENGERTIAN MEDIA DAN MEDIA PEMBELAJARAN
Robert hanick ( 1986 ), Media adalah sesuatu yang membawa informasi antara sumber dan penerima.
Rossi dan breidle ( 1966 ) mengemukakan bahwa media pembelajaran adalah seluruh alat dan bahan yang dapat dipakai untuk tujuan pendidikan, seperti radio, televisi, handphone dan lain lain.
B.     FUNGSI DAN MANFAAT PENGGUNAAN MEDIA PEMBELAJARAN
1.      Menangkap suatu objek atau peristiwa yang tertentu.
2.      Memanipulasi keadaan, peristiwa atau objek tertentu.
3.      Menambah gairah dan motivasi belajar siswa.
Fungsi penggunaan media pembelajaran
1.      Fungsi komunikatif. Media pembelajaran di gunakan untuk memudahkan komuniasi antara penyampai pesan dan penerima pesan.
2.      Fungsi motivasi.
3.      Fungsi kebermaknaan. Pembelajaran bukan hanya dapat meningkatkatkan penambahan informasi berupa data dan fakta sebagai pengembangan aspek kognitif tahap rendah, akan tetapi dapat meningkatkan kemampuan siswa untuk menganalisis dan mencipta sebagai aspek kognitif tahap tinggi.
4.      Fungsi penyamaan persepsi.
5.      Fungsi individualitas.
C.     Pentingnya media dalam proses pembelajaran
Menurut kemp dan dayton ( 1985 ) tentang pentingnya penggunaan media dalam proses pembelajaran yakkni :
1.      Penyampaian pesan pembelajaran dapat lebih terstandar.
2.      Pembelajaran dapat lebih menarik.
3.      Pembelajaran dapat lebih interaktif dengan diterapkannya teori belajar dan prinsip – prinsip psikologi yang diterima dalam hal partisipasi siswa,umpan balik,dan penguatan.
4.      Waktu pelaksanaan pembelajaran dapat di perpendek.
5.      Kualitas pembelajaran dapat di tingkatkan.
6.      Proses pembelajaran dapat berlangsung dimanapun dan kapanpun di perlukan.

D.    Prinsip – prinsip penggunaan media dalam pembelajaran
1.      Media digunakan dan diarahkan untuk mempermudah siswa belajar dalam upaya memahami materi pelajaran
2.      Media yang akan digunakan oleh guru harus sesuai dan diarahkan untuk mencapai tujuan pembelajaran
3.      Media yang digunakan harus sesuai dengan materi pembelajaran
4.      Media pembelajaran harus sesuai dengan minat, kebutuhan, dan kondisi siswa.
5.      Media yang akan digunakan harus memperhatikan efektifitas dan efesiensi.























BAB 3
KOMUNIKASI PEMBELAJARAN
A.    Hakikat komunikasi
Komunikasi dapat diartikan sebagai suatu proses penyampaian pesan dari sumber ke penerima pesan dengan maksud untuk mempengaruhi penerima pesan. Efektifitas komunikasi dapat dilihat dari aktifitas penerima pesan melalui feedbackyang dilakukannya. Komunikasi bertujuan tersampaikannya pesan sesuai dengan maksud sumber pesan. 
B.     Model komunikasi
1.      Modele lasswell
Lasswell mengetengahkan model komunikasi melalui pernyataannya yang sangat populer yaitu, “ who,say that,on what channel,to whom it may concern,at what effect.
2.      Model komunikasi schramme
C.     Fungsi media komunikasi
Ada 4 fungsi komunikasi dalam proses pembelajaran
1.      Fungsi menjelaskan
Fungsi untuk menjelaskan merupakan fungsi utama dari media komunikasi, mana kala kita lihat dari sejarahnya memang media komunikasi pertama kali di kembangkan untuk menjelaskan sesuatu. Misalnya dalam proses mengajar yang dilakukan guru, media pembelajaran sering digunakan untuk menjelaskan informasi yang disampaikan guru kepaa siswanya.
2.      Fungsi menjual gagasan
Dalam fungsi menjual gagasan isi dan sumber informasi berasal dari diri penyaji itu sendiri,, yang berkaitan dengan penyuguhan gagasan atau ide-ide baru untuk dikritisi oleh penerima pesan.
3.      Fungsi pembelajaran
Fungsi pembelajaran adalah fungsi media untuk membelajarkan siswa yang bukan hanya sekedar menerima informasi yang disuuguhkan akan tetapi bagaimana media dapat merangsang siswa untuk beraktifitas mencapai tujuan pembelajaran.
4.      Fungsi administratif
Fungsi administrati adalah pemanfaatan media sebagai alat bantu bagi lembaga pendidikan dalam menyebarkan informasi tentang kegiatan administrasi akademik.
D.    Pengolahan informasi
Pengelolaan informasi atau dinamakan komunikasi interpersonal adalah proses pengelolaan informasi oleh seseorang ketika orang tersebut menerima stimulus atau rangsangan dari luar.
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi dalam pengelolaan informasi :
1.      Sensasi
Dalam sistem komunikasi interpersonal sensasi merupakan komponen yang sangat penting, sebab sensasi merupakan gerbang utama setiap individu dalam menangkap setiap stimulusyang datang.
2.      Persepsi
Persepsi adalah proses pemberian makna terhadap sensasi yang diterima. Sensasi tidak akan berarti apa-apa tanpa diterjemahkan melalui persepsi
3.      Memori
Dalam sistem komunikasi peran memori sangatlah penting. Sebab memori berhubungan dengan proses menyimpan stimulusyang dihasilkan sensasi dan diolah menjadi persepsi.















BAB 4
PERKEMBANGAN DAN KLASIFIKASI MEDIA PEMBELAJARAN
A.    Perkembangan media pembelajaran
1.      Bahasa sebagai media pembelajaran
Dalam proses pembelajaran bahasa verbal merupakan media utama yang digunakan guru. Biasanya bahasa verbal itu dilakukan dengan menggunakan metode ceramah. Oleh sebab itu, dapat dipastikan mengajar itu identik dengan ceramahnya guru. Artinya guru telah mengajar kalau ia telah berceramah.
Ada beberapa ciri penggunaan bahasa verbal sebagai media pembelajaran diantaranya :
a.       Pembelajaran sepenuhnya tergantung dan berpusat pada guru.
b.      Materi pelajaran sepenuhnya tergantung pada penuturan guru.
c.       Pembelajaran merupakan proses yang statis dan berstruktur.
2.      Media sebagai alat bantu mengajar
3.      Media sebagai alat peraga
4.      Audio visual aid ( AVA ) sebagai media
5.      Media sebagai penyalur pesan
Ada beberapa karakteristik dalam menggunakan media sebagai penyalur pesan
a.       Proses pembelajaran tidak lagi menempatkan guru sebagai satu satunya sumber belajar
b.      Dalam batas tertentu, proses pembelajaran bisa terjadi dimana saja.
c.       Siswa atau peserta didik dapat mengevaluasi sendiri pembelajaran.
d.      Belajar sesuai dengan kebutuhan sisa sendiri.
6.      Media sebagai sumber belajar

B.     Peran guru dan perkembangan media
1.      Guru sebagai pengembang media dan sumber belajar.
2.      Guru sebbagai pengelola pembelajaran
3.      Guru sebagai administrator dan fasilitator
4.      Guru sebagai direktur
5.      Guru sevagai evaluator



C.     Klasifikasi media pembelajaran
1.      Dilihat dari sifatnya
a.       Media auditif, yaitu media yang hanya dapat di dengar saja, atau media yang hanya memiliki suara
b.      Media visual, yaitu media yang hanya dapat dilihat saja, tidak mengandung unsur suara.
c.       Media audio visual, yaitu jenis media yang selain mengandung unnsur suara juga mengandung unsur gambar yang dapat dilihat saja.
2.      Dilihat dari kemampuan jangkauannya
a.       Media yang memiliki daya liput yang luas dan serentak
b.      Media yang mempunyai daya liput yang terbatas
3.      Dilihat dari teknik atau cara pemakaiannya
a.       Media yang diproyeksi
b.      Media yang tidak diproyeksikan
4.      Berdasarkan bentuk dan cara penyajiannnya
a.       Media grafis
b.      Media bahan cetak
c.       Gambar diam











BAB 5
PENGEMBANGAN MEDIA PEMBELAJARAN
A.    Tahapan perencanaan
Ely ( 1979 ) mengatakan bahwa perencanaan itu pada dasarnya adalah suatu proses dan cara berfikir yang dpat membantu menciptakan hasil yang diharapkan. Kaufman ( 1972 ) memandang bahwa perencanaan adalah sebagai suatu proses untuk menetapkan kemana harus pergi, dan bagaimana bisa sampai ke tempat itu dengan cara yang paling efektif dan efesien.
1.      identifikasi karakteristik siswa
hal hal yang harus diperhatikan dalam mengidentifikasi karakteristik siswa sehubungan dengan perencanaan pengembangan media pembelajaran:
a.       tingkat perkembangan psikologi siswa
b.      kemampuan dasar siswa
c.       gaya belajar siswa
gaya belajar siswa dapat menentukan bagaimana cara menuangkan ide/gagsan dalam pengembangan mmedia pembelajaran
d.      kebiasaan siswa
kebiasaan siswa perlu di identifikasi khususnya apabila kita mengembangkan media pembelajaran yang bersifat masal, melalui penyiaran yang terpusat baik melaui siaran radio ataupun televisi.
2.      Perumusan tujuan
Dalam perumusan tujuan harus memiliki ketentuan sebagai berikut :
a.       Berorientasi pada siswa
Artinnya, rumusan tujuan pembelajaran harus selalu berpatokan pada perilaku siswa ddan bukan perilaku guru
b.      Operational
Artinya tujuan harus dirumuskan secara spesifik dan operasional sehingga mudah mengukur tingkat keberhasilan.
3.      Pengembangan materi
4.      Pengembangan alat ukur



B.     Penulisan naskah media
Naskah dalam perencanaan program media secara umum dapat di artikan sebagai pedomann tertulis yang berisikan formasi tentang bentuk visual yang akan ditampilkan, grafis atau tampilan kalimat untuk mempertegas visual dan audio atau suara yang diperlukan sebagai acuan dalam pembuatan media tertentu.
 Ada beberapa tahapan penulisan naskah, yaitu :
1.      Memunculkan dan memperkaya ide atau gagasan
2.      Membuat sinopsis dan treatment
3.      Menulis naskah ( script writing )
4.      Evaluasi dan revisi naskah
C.     Produksi media
Proses produksi media pembelajaran terbagi 3 yaitu :
1.      Pra-produksi, yaitu kegiatan sebelum pelaksanaan produksi.
2.      Pelaksanaan
3.      Pasca-produksi












BAB 6
MEDIA GRAFIS
A.    Pengertian media grafis
Graphics berasal dari bahasa yunani: graphikos yang berarti melukis atau menggambarkan dengangaris-garis ( withic & schuler ). Dalam webster dijelaskan bahwa graphics sebagai seni atau ilmu menggambar, terutama penggambaran mekanik.
Dalam konteks media pembelajaran, media grafis adalah media yang dapat mengkomunikasikan data dan fakta, gagasan serta ide-ide melalui gambar dan kata-kata.
B.     Jenis – jenis media grafis
1.      Bagan
Bagan atau chart adalah media grafis untuk menyajikan pesan pembelajaran dengan mengombinasikan unsur tulisan,gambar dan foto menjadi kesatuan yang bermakna dengan maksud untuk menyederhanakan bahan pelajaran yang kompleks agar mudah dipahami.
2.      poster
poster adalah media yang digunakan untuk menyampaikan suatu informasi, saran atau ide-ide tertentu sehingga dapat merangsang keinginan yang melihatnya untuk melaksanakan isi pesan tersebut.
3.      Karikatu
Karikatur atau kartun adalah media grafis untuk mengungkapkan ide atau sikap dan pandangan terhadap seseorang, kondisi, kejadian atau situasi tertentu.
4.      grafik
grafik adalah media grafis yang dapat memvisualisasikan perkembangan atau keadaan tertentu secara sederhana dan ringkas melalui garis dan gambar.
5.      Gambar dan foto
Merupakan media yang umum dipakai untuk berbagai macam kegiatan pembelajaran



BAB 7
MEDIA PRESENTASI
A.    Pendahuluan
Presentasi merupakan metode pembelajaran dengan cara penyampaian melalui penjelasan informasi oleh penyampai pesan ( dosen, guru, instruktur atau mahasiswa yang di tugasi untuk memaparkan ide, gagasan ataupun penemuan ). Presentasi merupakan proses komunikasi yangterdiri dari penyampai pesan, pesan itu sendiri yakni berbagai informasi yang ingin disampaikan .
B.     Pertimbangan pelaksanaan presentasi
1.      Presentasi dilakukan manakala pesan atau informasi yang hendak disampaikan adalah gagasan atau ide-ide baru, sehinnga guru atau dosen menganggap belum tersedianya secara memadai bahan-bahan referensi yang sesuai dengan gagasan yang akan disampaikannya.
2.      Presentasi dilakukan manakala ingin menyampaikan materi pelajaran yang bersifat data atau fakta.
3.      Presentasi dapat dilakukan manakala akan menyampaikan bahan-bahan baru serta kaitannya dengan yang akan dan harus dipelajari siswa.
C.     Jenis – jenis media presentasi
1.      Papan tulis
2.      Overhead projector (OHP)
3.      transparansi
D.    merancang bahan presentasi
ada empat langkah dalam merancang bahan presentasi
1.      merumuskan tujuan khusus
2.      mendesain visual
3.      memilih bentuk tulisan
4.      melakukan evaluasi dan revisi
E.     pelaksanaan presentasi
ada tiga langkah yang dilakukan dalam melaksanakan presentasi
1.      persiapan
langkah persiapan adalah langkah sebelum melaksanakan presentasi. Keberhasilan seseorang dalam melaksanakan presentasi akan ditentukan oleh langkah persiapan.
2.      penyajian
3.      penutup
penutup adalah langkah mengakhiri presentasi dengan maksud agar materi presentasi tidak mudah dilupakan. Ada beberapa hal yang dapat kita lakukan dalam mengakhiri presentasi, yaitu :
a.       pastikan audiens memahami materi yang kita presentasikan. Oleh sebab itu bisa dilakukan post test.
b.      Buatlah pokok-pokok materi yang telah kita sajikan misalnya denan membuat peta konsep.
Sumber
Judul buku                  : media komunikasi pembelajaran
Penerbit                       : PT. Kencana media group
Penulis                         : Prof. Dr. H. Wina sanjaya, M.Pd
Tempat terbit               : Jakarta
Tahun terbit                 : 2012
Tebal                           : 275 Halaman
Edisi revisi cetakan Pertama