Rabu, 18 Mei 2016



ESSAY
REINFORCEMENT LOYALITAS PERAN DAN POSISI KADER SERTA OPTIMALISASI PROFESIONALISME BERLEMBAGA MENUJU MASYARAKAT HUMANIS TRANSENDEN







Nama : Arham
Angkatan : 2013











HIMPUNAN MAHASISWA ELEKTRONIKA
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS NEGERI MAKASSAR

Tema :
Reinforcement loyalitas peran dan posisi kader serta optimalisasi profesionalisme berlembaga menuju masyarakat humanis – transenden.
Dengan melihat tema diatas maka saya merujuk beberapa poin, yaitu :
1.      Apa pengertian dan jenis reinforcement ?
2.      Bagaimana proses pembentukan loyalitas ?
3.      Apa fungsi profesionalisme dalam organisasi ?
4.      Bagaimana Memaknai Peran dan Arti Kader dalam Dinamika Organisasi

·         Pengertian dan jenis reinforcement
Reinforcement sering diartikan sebagai penguatan, menurut Tanjung Hendri Penguatan adalah segala sesuatu yang digunakan seorang pimpinan untuk meningkatkan  atau  mempertahankan  tanggapan  khusus  individu.  Jadi  menurut teori   ini,   motivasi   seseorang   bekerja   tergantung   pada   penghargaan   yang diterimanya dan akibat dari yang akan dialaminya nanti. Teori ini menyebutkan bahwa perilaku seorang di masa mendatang dibentuk oleh akibat dari perilakunya yang sekarang.
Jenis reinforcement ada empat, yaitu: (a) positive reinforcement (penguatan positif), yaitu penguatan yang dilakukan ke arah kinerja yang positif; (b) negative reinforcement (penguatan negatif), yaitu penguatan yang dilakukan karena mengurangi atau mcnghentikan keadaan yang tidak disukai. Misalnya, berupaya cepat-cepat menyelesaikan  pekerjaan karena tidak   tahan   mendengar   atasan mengomel  terus-menerus; (c)  extinction  (peredaan),  yaitu  tidak  mengukuhkan suatu perilaku, sehingga perilaku tersebut mereda atau punah sama sekali. Hal ini dilakukan untuk mengurangi perilaku yang tidak diharapkan; (d) punishment, yaitu konsekuensi yang tidak menyenangkan dari tanggapan perilaku tertentu.
·         Proses pembentukan loyalitas
       Berbicara loyalitas maka perlu dipahami dulu arti/ definisi loyalitas.  Definisi loyalitas dalam prakteknya seringkali dijabarkan dengan sangat berbeda-beda. Menurut kamus bahasa Indonesia maka pengertian loyalitas sesungguhnya merupakan kepatuhan dan kesetiaan. Selain itu Loyalitas juga bisa dikatakan setia pada sesuatu dengan rasa cinta, sehingga dengan rasa loyalitas yang tinggi seseorang merasa tidak perlu untuk mendapatkan imbalan dalam melakukan sesuatu untuk orang lain/ organisasi tempat dia meletakkan loyalitasnya.
Secara etimologis kata loyalitas selain mengandung unsur kepatuhan dan kesetiaan ternyata juga mengandung banyak unsur dimana unsur-unsur tersebut saling bersinergy dalam membentuk loyalitas seseorang.
       Melihat dari arti kata diatas menunjukkan bahwa dalam loyalitas terkandung beberapa unsur diantaranya pengorbanan, kepatuhan, komitmen, ketaatan dan kesetiaan. Hal ini menunjukkan bahwa terbentuknya sikap loyal melalui proses yang sangat rumit karena dipengaruhi interaksi dua belah pihak. Mengacu dari pengertian loyalitas diatas dapat dikatakan bahwa seseorang dikatakan memiliki loyalitas jika seseorang tersebut memiliki kepatuhan dan kesetiaan terhadap organisasi/seseorang. Ada 4 tahapan dalam pembentukan loyalitas yaitu :
1.         Cognitive Loyalty ( Kesediaan berdasarkan kesadaran ).       
Pada tahapan pertama loyalitas ini, informasi yang tersedia mengenai suatu yang diinginkan menjadi faktor utama. Tahapan ini didasarkan pada kesadaran dan harapan seseorang
2.         Affective Loyalty ( Kesetiaan berdasarkan pengaruh )
Tahapan loyalitas selanjutnya didasarkan pada pengaruh. Pada tahap ini dapat dilihat bahwa pengaruh memiliki kedudukan yang kuat, baik dalam perilaku maupun sebagai komponen yang mempengaruhi kepuasan. Kondisi ini sangat sulit dihilangkan karena loyalitas sudah tertanam dalam pikiran seseorang bukan hanya kesadaran maupun harapan.
3.         Conative Loyalty ( Kesetiaan berdasarkan komitmen )
Tahapan loyalitas ini mengandung komitmen perilaku yang tinggi untuk melakukan seluruh permintaan yang ada. Perbedaan dengan tahapan sebelumnya adalah Affective Loyalty hanya terbatas pada motivasi, sedangkan Behavioral Commitment memberikan hasrat untuk melakukan suatu tindakan, hasrat untuk melakukan tindakan berulang atau bersikap loyal merupakan tindakan yang dapat diantisipasi namun tidak dapat disadari.
4.         Action Loyalty ( Kesetiaan dalam bentuk tindakan )
Tahap ini merupakan tahap akhir dalam loyalitas. Tahap ini diawali dengan suatu keinginan yang disertai motivasi, selanjutnya diikuti oleh kesiapan untuk bertindak dan berkeinginan untuk mengatasi seluruh hambatan untuk melakukan tindakan.
·         Fungsi profesionalisme dalam organisasi
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, profesionalisme (profésionalisme) mempunyai makna; mutu, kualitas, dan tindak tanduk yang merupakan ciri suatu profesi atau yang profesional. Profesionalisme merupakan sikap dari seorang profesional. Menurut H. Sumitro Maskun (1997: 7) bahwa suatu profesionalisme adalah merupakan suatu bentuk atau bidang kegiatan yang dapat memberikan pelayanan dengan spesialisasi dan intelektualitas yang tinggi. Jadi, profesionalisme adalah tingkah laku, kepakaran, spesialisasi atau kualiti dari seseorang yang profesional.

Organisasi (Yunani: ὄργανον, organon - alat) adalah suatu kelompok orang dalam suatu wadah untuk tujuan bersama. Dalam ilmu-ilmu sosial, organisasi dipelajari oleh periset dari berbagai bidang ilmu, terutama sosiologi, ekonomi, ilmu politik, psikologi, dan manajemen. Kajian mengenai organisasi sering disebut studi organisasi (organizational studies), perilaku organisasi (organizational behaviour), atau analisis organisasi (organization analysis).

Kalau dalam cangkupan Kelompok atau pelajar di bedakan menjadi dua yaitu Komunitas adalah sebuah kelompok sosial dari beberapa organisme yang berbagi lingkungan, umumnya memiliki ketertarikan dan habitat yang sama. Dalam komunitas manusia, individu-individu di dalamnya dapat memiliki maksud, kepercayaan, sumber daya, preferensi, kebutuhan, risiko, kegemaran dan sejumlah kondisi lain yang serupa.

 Komunitas berasal dari bahasa Latin communitas yang berarti "kesamaan", kemudian dapat diturunkan dari communis yang berarti "sama, publik, dibagi oleh semua atau banyak". Dan Organisasi pelajar adalah organisasi yang beranggotakan pelajar untuk mewadahi bakat, minat dan potensi mahasiswa yang dilaksanakan di dalam kegiatan ko dan ekstra kurikuler.

Di era sekarang profesionalisme organisasi seakan-akan hanya dikesampingkan saja disebabkan pengajaran yang diberikan oleh organisasi sangat minim tak terkecuali organisasi terpelajar, pengajaran yang hanya bersifat pengetahuan dan pengajaran menjadi panitia acara tidak akan bisa membentuk karakter orang yang punya prefesionalisme organisasi dan tidak terlepas oleh pengurus organisasi itu.

Apalagi organisasi pelajar dan Komunitas yang mencangkup antara organisasi tidak boleh mempropaganda organisasi lain dan memberi ruang organisasi yang sama, ini bisa mengakibatkan permusuhan di dalam Komunitas itu. Jadi jika ada organisasi atau komunitas yang tidak punya etika atau sopan santun dalam perbuatannya, apalagi mengharamkan organisasi lain sepatutnya di beri sangsi tegas biarpun itu senior atau alumni.

Profesionalisme sangat diperlukan dalam sebuah organisasi, di mana setiap orang dituntut untuk bekerja secara profesional. Jika dalam sebuah bidang organisasi tidak ditemuka profesionalisme, maka yang akan terjadi adalah timbulnya keresahan dalam organisasi tersebut dan mengakibatkan pekerjaan yang diharapkan dapat selesai menjadi terabaikan atau terbengkalai karena kurang adanya kepedulian terhadap pekerjaan tersebut.

Profesionalisme sangat diperlukan dan penting, karena tanpa adanya hal tersebut maka akan muncul kecemburuan sosial dalam suatu bidang pekerjaan dan profesionalisme sendiri membutuhkan sebuah tanggungjawab kepada setiap orang untuk bertanggungjawab atas tugas atau pekerjaan yang telah diserahkan kepadanya dan harus menyelesaikan tepat pada waktu yang telah ditentukan.

Dalam berorganisasi etika profesionalisme juga sangat diperlukan, antara lain tampilkan rasa percaya diri kamu, yakinlah terhadap kemampuan diri kamu bahwa kamu bisa, jangan minder dan usahakan selalu rendah hati, yakinlah setiap orang pasti memiliki kekurangan dan kelebihan, jadi kita tidak boleh bersombong diri atau merendahkan orang lain, usahakan mampu berkomunikasi dengan diri sendiri.

Yang paling penting adalah menjaga kedisiplinan kita, seperti datang tepat waktu pada saat ada pengumpulan anggota organisasi, tidak meninggalkan tugas yang telah diberikan oleh ketua karena itu bukanlah sikap professional. Selain itu menggunakan waktu dengan sebaik mungkin sehingga tidak ada waktu yang terbuang sia-sia. Etika salam juga salah satu orang yang memilliki jiwa profesionalisme, contohnya pada saat bertemu teman kita hendaknya memberikan 3-S, yaitu senyum, salam, sapa. Itu akan membuat kita akan dipandang sebagai orang yang mempunyai jiwa profesional dan ramah.

·         maknai Peran dan Arti Kader dalam Dinamika Organisasi
Dalam sebuah organisasi ada yang dinamakan kader.Definisi kader menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia(KBBI) adalah orang yang akan diharapkan untuk memegang peranan penting dalam pemerintahan,institusi,atau organisasi. Namun dalam kenyatannya kader lebih diidentikkan sebagai sosok yang masuk kedalam organisasi tetapi mereka belum menjadi pengurus dalam organisasi tersebut. Penafsiran tersebut yang mungkin membatasi para pelakunya atau peminat organisasi yang mau terjun kedalam sebuah organisasi dikarenakan masih adanya sekat atau pembatas dalam hal penggolongan tersebut.

Sebenarnya masalah-masalah tersebut bukan menjadi hal yang urgent. Menjadi seorang kader bukanlah hanya sebatas menghadiri forum forum, kajian kajian atau kegiatan yang diadakan organisasi yng bersangkutan. Terlepas dari masalah itu kader seharusnya juga bisa disejajarkan dengan Pimpinan. Analogi tersebut misalnya bisa berupa tentang saran maupun masukan supaya kedepannya kader juga bisa berkontribusi positif dalam membangun dan mengembangkan organisasi ke arah kemajuan.

Tanpa adanya sekat atau pembatas antara kader dan pimpinan, seharusnya harus ada pendekatan pendekatan dalam hal penanaman kader. Pendekatan pendekatan tersebut bisa berupa pendekatan manusiawi, yaitu pendekatan secara fisik dengan cara memanusiakan kadernya, bahwa kader adalah calon pemimpin yang harus disikapi dan harus dipersiapkan kelak ketika menjadi seorang pemimpin. Pendekatan progam atau tugas adalah calon pemimpin akan lebih terampil bertambah pengalaman dan wawasan ketika seorang pemimpin itu diberi amanahPendekatan Idealisme yaitu pendekatan yang merupakan upaya memberikan roh,ajaran dan filosofi dibalik penegasan.

Proses pendekatan ini akan menjadi lebih penting karena hakikat apa yang ada dalam  organisasi memiliki nilai kehidupan yang tinggi apabila mampu dikaitkan dengan makna ibadah sesungguhnya.Dengan berbagai pendekatan tersebut seharusnya kita juga harus dapat mengaplikasikannya dalam pembentukan kader.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar